Kau, Aku, dan Petualangan Menaklukkan Angan

Suatu hari kau dan aku
Merencanakan menyimpan angan kita.
Kata orang bijak
Angan itu liar tak berbentuk
Menyimpan angan
Sama dengan menangguk air dengan saringan.

Mudah saja, kataku, katamu
kita bentuk dia jadi kotak
sehingga mudah kita susun
setumpuk demi setumpuk
sejejer demi sejejer
di dinding lipatan otak kita

Tiap hari kau, aku
seperti biasa berbagi tawa dan tangis
khayalan dan mimpi indah.
Merasa aman dan bahagia dalam kepala kita
tersenyum melihat kotak-kotak
berduyun rapi di lipatan otak.

Tapi mereka ternyata beranak pinak
Tak diperintah tak dijodohkan mereka membanyak
Saat aku sendiri, saat kau sendiri
Mereka leluasa berpesta pora
Pesta selalu indah
Tahukah kau?

Anak2 mereka tak mau diam
dan tak selalu berbentuk kotak.
Barisan mulai tak rapi
dan ruangan mulai sesak.
Yang kotak mulai terhimpit,
beberapa melesak tak berbentuk.

Argh… mereka mengetuki tengkorak!
Dan yang lolos merayap lewat pori-pori,
merambati buluh-buluh rambut
Berpegang erat dan berat
Dan aku , kau
mulai mengibas karena pusing

Aduh!…luka di pipiku
terkena lontaran dari rambutmu.
Dan kulihat ada beberapa
didahimu dari rambutku.
Marah kutatap matamu,yang melihat dengan tatapan sama
tanganku mulai meraih ke arah rambutmu….

Argh..mereka berjatuhan ke lantai,
berserakan di sekitar kakiku
Terengah aku , kau dan mereka
di tengah potongan rambutku, rambutmu
yang jadi korban jambak-menjambak
Menolongkah berkepala gundul?

Aku dan kau berpandangan
Serasa ditampar hingga sadar
Manusia tanpa angan
Bagai hidup tanpa pangan
Tapi lihat yang kita lakukan
Hingga tak mengenal lagi wajah kita di cermin

Sejak itu aku, kau
Melupakan impian menjinakkan khayal
*bisakah kita?*
Meniupnya sebesar mungkin
Melambung-lambungkannya lalu biarkan dia pecah
Hingga kita tak perlu menyimpannya dalam lipatan otak
menerima angan hanya ilusi
Yang mewujud dan menghilang setiap saat.

Bandung, Sept 2007

Leave a Reply