Yin’s Monoloque

Bila kau tanya arti dirimu bagiku,
aku lebih suka bercerita tentang diriku :

Kadang aku pasir kasar
berabad terpanggang terik matahari tua
hingga panasnya terasa beku
terus berpeluh dan menggigil
menanti badai membawaku pergi
dan merubah wajah gurun

Aku juga akar rumput
merogoh retak tanah kemarau
sia-sia dan mengering sampai retas
hingga kecupan tetes pertama musim hujan
menarikku dari mati suri
membisikkan ingatan tentang kehidupan

Aku telinga yang diam
beku terbius ketenangan bisu
kesunyian menusuk yang menipu
menanti desau angin pertama
yang riap-riap sayupnya
menyadarkanku dari ketulian semu

Aku, Kijang yang resah
berlari kian kemari
mengejar nada samar dalam angin
sampai sang pemburu datang
meniupkan serulingnya begitu indah
hingga aku rela mati di atas tahta teratai.

Kau Lihat?
Ketika aku bercerita tentang diriku,
aku bercerita tentangmu
karena kau angin badai dan tetes hujan
desau angin dan tiupan seruling
yang memberi judul bagi kehampaan-tanpa-nama ku.

Bandung, 14072007.

Leave a Reply