The Cyclic Cycle
Suatu hari di muara yang sunyi
air melepaskan diri dari pelukan lumpur :
"Cepat, cepat ke laut
aku akan kembali pada diriku"
…
Cuma setetes air dalam lautan
berat digayuti garam ribuan tahun
yang kemudian lepas bebas ke angkasa :
"Inilah semurninya diriku!"
…
Ketika dataran tinggi hijau memanggil
akhirnya tergoda jatuhkan dirinya ke sana.
Mendengar gemericik dirinya, dia berkata riang :
"Dengar nyanyianku!"
…
Pada padas sepanjang jalan
dia bercerita tentang hidupnya ribuan tahun.
Pada padas yang menggemakan suara merdunya sepanjang lembah
Tentang angannya, tentang tangisnya
…
"Aku cinta padamu!"
akhirnya ia berkata pada tebing2 keras.
"Aku cinta padamu!"
Bebatuan menggaungkan suaranya
…
Rengkuhan makin keras
arus mengikis sudah ribuan tahun
air dan padas tak ingin berpisah
"aku ingin selamanya bersamamu"
…
Air tak akan bisa berhenti
sudah hukumnya dia terus berjalan
Padas cemburu :
"Kau milikku!"
…
Yang deras mulai melambat..
Yang keras menjadi gembur..
"Aku cinta padamu"
Tapi padas sudah menjadi tanah
…
Tak ada gaung
Tak ada nyanyian
dia hanya terus memeluk
"..milikku…"
…
Air terdiam
makin lambat
makin kental
dia berubah
…
Lumpur
ribuan tahun
sampai
muara
…
Suatu hari di muara yang sunyi
Air melepaskan diri dari pelukan lumpur :
"Cepat, cepat ke laut
aku akan kembali pada diriku"
…
(* tak ada ribuan tahun atau sedetik, kau atau aku, air atau batu, cinta atau cemburu dalam cerita ini, semua sama adanya) - dibuat di bandung, 26 Juni 2007.
July 10th, 2007 at 11:15 am
Still the same question Bunda…
“What’s up? are you STILL ok?”
-brankas-.