The Cyclic Cycle

Suatu hari di muara yang sunyi

air melepaskan diri dari pelukan lumpur :

"Cepat, cepat ke laut

aku akan kembali pada diriku"

Cuma setetes air dalam lautan

berat digayuti garam ribuan tahun

yang kemudian lepas bebas ke angkasa :

"Inilah semurninya diriku!"

Ketika dataran tinggi hijau memanggil

akhirnya tergoda jatuhkan dirinya ke sana.

Mendengar gemericik dirinya, dia berkata riang :

"Dengar nyanyianku!"

Pada padas sepanjang jalan

dia bercerita tentang hidupnya ribuan tahun.

Pada padas yang menggemakan suara merdunya sepanjang lembah

Tentang angannya, tentang tangisnya

"Aku cinta padamu!"

akhirnya ia berkata pada tebing2 keras.

"Aku cinta padamu!"

Bebatuan menggaungkan suaranya

Rengkuhan makin keras

arus mengikis sudah ribuan tahun

air dan padas tak ingin berpisah

"aku ingin selamanya bersamamu"

Air tak akan bisa berhenti

sudah hukumnya dia terus berjalan

Padas cemburu :

"Kau milikku!"

Yang deras mulai melambat..

Yang keras menjadi gembur..

"Aku cinta padamu"

Tapi padas sudah menjadi tanah

Tak ada gaung

Tak ada nyanyian

dia hanya terus memeluk

"..milikku…"

Air terdiam

makin lambat

makin kental

dia berubah

Lumpur

ribuan tahun

sampai

muara

Suatu hari di muara yang sunyi

Air melepaskan diri dari pelukan lumpur :

"Cepat, cepat ke laut

aku akan kembali pada diriku"

(* tak ada ribuan tahun atau sedetik, kau atau aku, air atau batu, cinta atau cemburu dalam cerita ini, semua sama adanya) - dibuat di bandung, 26 Juni 2007.

One Response to “The Cyclic Cycle”

  1. Yuliazmi Says:

    Still the same question Bunda…

    “What’s up? are you STILL ok?”

    -brankas-.

Leave a Reply