Apa hubungannya kutu sama banjir? Ternyata kutu bisa menyebabkan banjir. Begini ceritanya - hua, posting tentang situasi pasca-heboh A’a Gym dan juga posting tentang poligami terpaksa disalip cerita kutu hehehe.
Sudah tiga minggu belakangan ini saya mengalami gatal2 yang sangat menggangu. Wujudnya seperti gigitan serangga - entah nyamuk, semut atau kutu - bentol merah yang gataaaaaaal sekali, dan dalam 3-4 hari sembuh meninggalkan bercak hitam (yang sama sekali nggak estetik). Sayangnya, tiap hari pastiiiii saja ada bentol baru yang muncul, dan lama2 daerah penampakannya makin meluas. Tadinya cuma di sekitar pergelangan kaki, sekarang bisa muncul di pinggang, bahu, lengan.
Anehnya, dari 5 orang yang ada di rumah pada waktu siang (dan 4 pada waktu malam) cuma saya yang mengalami bencana begini. Si ayah memang ada gatal2, tapi sedikit. Ainun dan Aisha sempat bentol juga tapi biasanya hilang dalam 24 jam layaknya gigitan nyamuk biasa. Si Mbak, Lastri, malahan bebas 100 % dari kegatalan jenis apapun. Jadi kalau parasit sejenis kutu (kutu anjing, kucing, kutu busuk dll) kayaknya nggak mungkin cuma memilih satu dari 5 orang untuk dihinggapi, lagipula nggak pernah keliatan ada makhluk superkecil yang loncat2 di lantai yang kebetulan warnanya putih. Setelah ke dokter dan dia menyimak kronologi kemunculan dan memeriksa bentol 2 menyebalkan tersebut, kesimpulan sementara ya ada yang salah dengan diri saya, mungkin sejenis alergi yang dipicu perubahan cuaca, atau makanan, mengingat belakangan lagi sering makan hasil laut. Jadi mulailah pengkonsumsian obat anti histamin dikala malam (soalnya efek ngantuknya waduuuuuuuh….dahsyat, kalau dimakan siang bisa2 dakocans ditinggal tidur terus seharian). Dan setia mengoleskan salep anti gatal (setelah calamine nggak mempan, mulai pakai yang ada kortikosteroidnya).
Nah, setelah 2 minggu kok nggak ada perubahan…memang sih anti histaminnya berefek memperpendek masa kegatalan menjadi 2 hari saja. Tapi itu bentol teteuuuup keukeuh muncul silih berganti.Waduh, gimana nih, salepnya nggak boleh dipakai jangka panjang lagi. Mulailah hobi lama muncul - cari informasi dari internet. POkoknya semua website yang menyediakan informasi gratis wajib disusuri. Topiknya juga kemana-mana, mulai dari alergi, gatal2 (waduh, dari sini nyambungnya ke mana-mana…sampai baca tentang faal hati dan ginjal beserta semua link2nya), lalu sempat berlama-lama nyimak penjelasan tentang lambung sebelum kembali lagi ke alergi setelah menemukan ternyata salah satu jenis obat maag yang sering saya minum adalah sejenis penghambat histamin (zat yang bereaksi terhadap alergen).
SEmpat juga cemas waktu membaca gatal akibat scabbies (kutu busuk yang bikin liang2 di bawah kulit trus beranak pinak dan poop di sana sambil santai2 menghisap darah kita), apalagi temen sekolahnya aisha ada yang sempat terkena scabbies (entah dari mana, ibunya aja-yang kebetulan dokter- sampe bingung). waks, jangan scabbies dong…nggak relaaaaa!!!!! UNtung tak berapa lama saya menemukan website full gambar…wah…ini bener2 menolong!!! setelah mengamati foto2 jenis2 kegatalan (tidak termasuk "gatel" dalam terminologi sosial dan psikologis), kok kesimpulan saya bentol saya itu gigitan kutu - untungnya bukan kutu busuk alias scabbies. Langsung deh pencarian difokuskan pada kutu, lagi2 yang diperlukan adalah gambar!!! Nah, dapet nih…ada tungau, kutu anjing, kutu rambut manusia, kutu chiggers (nih katanya bahaya, bisa jadi vektor penyakit thypus)…daaaaan…kutu kucing. Warnanya (kalau sudah dewasa) merah dengan kaki belakang panjaaaang sehingga bisa meloncat tinggi.
Di saat bersamaan, kaki terasa gatal….di tempat yang baru.Otomatis saya garuk sambil melihat ke lantai. Wets…bentar…bentar…kok kayaknya ada yang bergerak perlahan. Close up! ukurannya sekitar 1,5 mm…disentil dikit, eh, dia nggak loncat, cuma gerak2 dikit. Dipenyet, eh…masih idup…penyet lagi…nggak mempan! Diplites…nah, baru gepeng dan ada noda darah. OK, jadi beliau sudah menghisap darah. jasadnya saya ambil untuk dicocokkan dengan foto2 indah tadi. Hasilnya? Ya kutu kucing…..
Ternyataaaaaaaaaa……..kutu kucing! "Lho, elo piara kucing?", begitu tuh komentar temen2 waktu saya dengan puas cerita sudah menemukan sebab musabab kegatalan dan nanya cara membasmi kutu kucing. Ya tentu tidak dong, kalau kucing piaraan pasti dijaga-jaga dan dirawat sehingga nggak sampe kutuan. Ini pasti gara2 komunitas kucing liar yang populasinya sudah sangat mengkhawatirkan di sekitar rumah. Seenaknya kawin (sering kepergok melakukan aktivitas ini di pinggir jalan - dasar kucing), numpang tidur dan melahirkan, malah pernah meninggalkan bayi yang sudah game over di para2 sampai kita heboh gara2 ada bau bangkai misterius. Hahaha, saya juga langsung lapor (protes tentang teori alergi) kepada sang dokter yang trus menjelaskan bahwa mungkin saya punya sensitivitas berlebih terhadap air liur kutu kucing. Makanya dari oarng serumah, saya paling menderita. Kalo si ayah lebih sadis lagi, teorinya kutu kucing mencari inang baru yang ‘bentang alam’nya paling mirip sama kucing. Hehehe…nggak penting banget sih…yang penting itu sekarang perang terhadap si kutu.
Langsung deh duduk lagi di depan komputer. Buka websitenya jasa pemusnahan serangga, tikus dan binatang2 pembawa penyakit lainnya - kebetulan kantornya sering kelewatan kalau menuju sekolah aisha. Canggih sih, dan kelihatan profesional, tapi jelas mahal dan menggunakan bahan kimia berbahaya. Searching lagi…kali ini keywordnya ‘natural cat flea repellent’. Dari beberapa penjelasan disitu saya jadi tau bahwa walaupun tanpa inang asli, kalau si kutu sudah sempat bertelur, dan telur itu sukses disembunyikan - seringnya di benda2 berbulu seperti karpet - si telur itu bisa menetas di luar inangnya. dan setelah itu dia bisa bertahan hidup dari darah inang pengganti selain kucing (misalnya manusia malang seperti diriku). Tapi dia tidak bisa kawin dan bertelur tanpa inang aslinya. Whew…jadi kita tinggal menunggu si telur itu menetas, beranjak dewasa, trus mati tua tanpa sempat kawin dan bertelur…yang waktunya sekitar…ok, 2 bulanan!!!!!! dan selama itu merelakan darah diisep2??? belum lagi ada kemungkinan si kutu bisa menemukan inang asli…berhubung di sekitar rumah banyak berkeliaran kucing kampung liar. Siklus bisa berjalan terusssss….Wah, pengen deh rasanya ngarungin itu semua kucing trus buang jauh2…
Pembasmian kutu kalau mau gampang ternyata memang pake insektisida. Tapi saya masi trauma akibat keracunannya aisha beberapa minggu yang lalu. Insektisida paling aman ternyata bubuk boraks, tapi bubuk itu harus ditabur sepenjuru rumah…yah…nggak mungkin dilakukan tanpa kita harus mengungsi dong…Cara lain dengan merubah kelembaban…karena kutu paling gampang dehidrasi katanya, paling nggak tahan kalau dijemur. Pantes dia merajalela di musim hujan. Ada lagi bikin jebakan kutu pakai air sabun dan lampu, trus tolak kutu pakai olesan minyak kayu putih dan balsem, air jeruk nipis, minyak sereh, atau bawang putih. Malah ada yang menyarankan kita banyak2 makan bawang putih supaya keringat kita bau bawang putih dan kutu nggak tertarik hinggap. Waduuuuh….gimana tho, kalo model gitu, jangankan kutu, suami juga bakal lari!!!!
Cara paling logis saat ini ya…bersih2 rumah…sering2 divaccum dan dipel pakai karbol (2 kali sehari…ekstra kerjaan, tapi daripada2…), usahakan semua tempat terkena sinar matahari langsung (ini yang nggak mungkin, rumah kita lebih rendah dari jalan), jangan menaruh keset di teras (karena kemungkinan dijadikan alas tidur kucing liar dan jadi tempat sembunyi kutu yang ideal), tempat tidur, seprai dan selimut dan semua benda berkain yang sering kontak dengan kulit penghuni rumah sering2 disetrika (ekstra kerjaan juga, maklum musim ujan di gunung, kalo dicuci kapan keringnya???), begitu juga dengan baju terutama celana panjang, harussss disetrika dari bagian dalamnya sebelum dipakai trus rajin oles2 minyak kayuputih atau minyak telon. Plussss….babatin tanaman2 yang agak rimbun, karena bisa dipakai berteduh sama si kutu dan saudara jauhnya sejenis chigger yang kalau ibu saya menyebutnya agas (kalau yang ini bisa terbang).
Nah, taman kecil di antara kamar dan kamar mandi sudah ditreatment langsung. Cuma untuk halaman sepertinya butuh tenaga pembabat profesional alias tukang kebun karena kita jadi pingin mbabat pohon mangga juga yang sudah terlalu rimbun. Sayangnya si bapak ini cuma bisa dinas berkebun di hari minggu karena hari lainnya dia "ngantor" di kantor pengurus komplek. Nah, hari ini dia dateng pagi2 sekali dna langsung babat sana sini. Biarlah, semakin cepat dibabat semakin baik…sudah nggak tahaaaaan sama kutu. Celakanya, sampai dia selesai bekerja, Si Lastri nggak juga datang alias meliburkan diri pasca gaji tengah bulan. Memang sisa2 potongan rumput dan ranting sudah disapu dan masuk tempat sampah dengan rapi, tapi bahaya laten mengancam kalau ada hujan lebat dan meluruhkan potongan rumput yang kecil2 di tanah dan menyumbat saluran air satu2nya. Tadinya saya keukeuh mau melanjutkan pembersihan rumput2 kecil itu, tapi si ayah juga keukeuh minta ditemenin sarapan. Sepulangnya sarapan ternyata waktu sudah mepet banget untuk pergi ke pementasan Ainun (hihi, gaya lho, ainun main keyboard diiringin band!) dna ayah sudah mau pergi lagi. Akhirnya rumah dan halaman ditinggal begitu saja tanpa ada yang jaga rumah.
Sekitar jam 3 sore di fun station terjadi hujan lebaaaat banget. Saya langsung cemas memikirkan keadaan rumah. Si ayah ketika ditelpon mengatakan nggak bakal pulang siang, dan menenangkan, rumah nggak akan apa2. Duh gimana sih si ayah…? Yah, sudhalah…walaupun bad feeling banget. Sepanjang perjalanan pulang saya sudah wanti2 dakocan kalau sampe rumah banjir, terpaksa mereka ngungsi ke rumah nini. Ternyataaaaa…benerrrrrrr….dari luar aja udah kelihatan teras rumah penuh lumpur. Yah…bakal kerja rodi deh.
Lantai basah mulai ruang tamu, belok ke ruang duduk (untung rak tv dan pintu masuk kamar utama lantainya naik dikit dan untung kamar ainun selamat total), basah deh sofa…trus masuk ke kamar tidur tamu (ancurrrr….pas disendokin dapet 4 ember penuh), belok lagi ke ruang makan, mengalir lagi ke dapur…hayyyyyah….lumpurnya itu lho…waduh…ngebayangin isinya aja sudah bikin sebel…pasti mengandung poop kucing liar yang nyebelin itu (sentimeeeen banget neh jadinya). AKhirnya pembersihan rumah temporer - kayaknya masih harus dipel 2 kali lagi, ini aja udah dipel 3 kali dan air pelnya masih coklat susu gitu - selesai juga sekitar jam 8 (huhuhu…pegel, ga ada yang bantuin, si ayah begitu ditelpon dan pulang langsung pergi lagi ngungsiin dakocan ke neneknya, pas dia sampe rumah udah beres). Sebagai tanda simpati (soalnya saya rada bete) akhirnya dia mengajak makan di resto, katanya supaya tenaganya balik lagi dan lagipula ilfil banget makan di rumah yang dapurnya masih kebanjiran (males bersihin, udah cape banget). Ya udah deh, mumpung hehehe, lagi pengen makan enak dan jarang2 bisa pergi berdua (tanpa dakocans lagi..hehehe). Teuteuuup dong, hari ditutup dengan punggung pegel2, telapak tangan merah2, kaki gatel2 dan jadinya sampai sekarang nggak bisa tidur dan akhirnya jadi nulis blog.
Jadi begitulah hubungannya antara kutu dan banjir yang menyeret kucing menjadi hewan paling diinginkan (untuk disingkirkan jauh2 dari rumah) saat ini - buat cat lovers seperti Sofie n Mbak Ghita…suoriiiii banget hehehehehe.