Monday, November 27th, 2006
Setelah ngomongin The Corrs, jadinya pingin nulis tentang Celtic Music. Soalnya saat ini budaya Irlandia dan Skotlandia lah yang dikenal sebagai budaya Celtic. Padahal ternyata, setelah iseng baca sana sini, Pan Celtica meliputi wilayah dan masalah yang lebih luas lagi.
Kata ‘Celtic’ sendiri asal muasalnya dari bahasa Yunani Kuno ‘Keltoi’ yang artinya kurang lebih ’suku-suku barbar’ (barbaros kurang lebih artinya berbahasa seperti ocehan yang tak jelas/ ocehan bayi). Suku-suku barbar ini sendiri kemungkinan maksudnya bangsa-bangsa Eropa, karena dari sumber2 sejarah, Celtic kuno itu (bangsa2 berbahasa Celtic/ Indo-Eropa) meliputi wilayah Eropa tengah, termasuk yang sekarang ini merupakan Perancis, Swiss, Austria. Pada saat itu mereka menyebut diri sebagai bangsa Gael, Gaul (Galia, di Perancis - ingat Asterix dan Obelix yang terlibat permusuhan panjang dengan bangsa Romawi) dan Galatian (suatu daerah yang sekarang termasuk wilayah Turki).
Sekarang ini, bangsa2 berbahasa Celtic hanya tersisa di Kepulauan Inggris dan beberapa bagian Perancis. Mereka adalah yang tinggal di Irlandia, Skotlandia, Isle of Man, Wales, Cornwall dan Bretagne (Brittany). Tetapi ciri kebudayaan (khususnya musik) yang sama masih bisa ditemukan bahkan sampai ke Cantabria, Asturias dan wilayah utara Portugal (walaupun sudah banyak dipengaruhi musik arab). Unsur yang sama juga mempengaruhi musik di Amerika Serikat dan Kanada (dibawa oleh migrasi besar2an ke benua Amerika akibat kelaparan besar di Irlandia).
Nah, Celtic music ini adalah terminologi yang punya makna politik, dipakai oleh mereka yang menolak disebut sebagai bagian dari Musik Rakyat Inggris atau Musik Rakyat Prancis. Celtic Music terbagi dua jenis, Gaelic (Irlandia dan Skotlandia, cirinya melodinya menggunakan range nada lebih luas-sekitar 2 oktaf dan seringkali dalam pure pentatonic) dan Brythonic ( Bretton dan Wales, cirinya range melodi yang lebih sempit bahkan bisa cuma 1/2 oktaf saja).
Mengenai ciri musik celtic, dari bentuk bisa jadi kurang spesifik, karena bentuk serupa juga ditemukan di bagian lain Eropa ( misalnya jig berasal muasal dari Italia). Tapi biasanya music celtic - uraian berikutnya akan mengambil contoh dari musik tradisional Irlandia- memiliki struktur melodi dan ‘pulse’ ritme yang khas. Perubahan pola yang nyaris tak kentara sepanjang lagu (baik dari ornamentasi maupun dinamik, elaborasi biasanya terjadi pada ritme dan phrasing), melodi dan lirik disebarkan turun temurun puluhan generasi, pergerakan harmoninya simpel (tapi tidak selalu I-IV-V seperti di musik pop), instrumen2nya dimainkan secara unison (satu suara). Pada awalnya selalu instrumental (tanpa vokal) karena digunakan sebagai musik pengiring tarian pada perayaan2 seperti pernikahan dan pesta-pesta (yang indentik dengan minum bir). Pola yang umum adalah 16 bar atau 2 x 8 bar, biasanya 8 bar pertama untuk tarian menggunakan kaki kanan dan 8 bar kedua untuk kaki kiri. Pola ini diulang berkali-kali sekehendak pemainnya sampai tarian berakhir.
Musik tarian biasanya dibedakan menurut time signature nya (tanda birama) dan bukan dari tune/ nada nya. Ada Reels (4/4), hornpipes (4/4 dengan menggunakan not2 1/8 sepanjang lagu), double Jig (6/8), Slip & Hop Jig (9/8), dan Single Jig (12/8). Juga ada adaptasi dari irama asing (seperti Polandia) yaitu polka (2/4) dan Mazurka (3/4).Tariannya sendiri dibagi dua yaitu double/ treble Jig yang menggunakan ’sepatu keras’ sehingga bisa dibunyikan menghentak sambil menari, dan Light Jig yang menggunakan sepatu ringan.
Alat musik yang digunakan paling awal adalah Fiddle (biola, tapi penggunaan kata fiddle mengacu kepada cara memainkannya yang a la tradisional, bukan secara klasik Eropa). Kemudian Flute dan Tin Whistle (seruling kecil, seperti yang dimainkan Andrea Corrs itu lho), awalnya terbuat dari kayu, tapi pada abad 19 mulai difabrikasi secara masal dari bahan logam. Lalu Uillean Pipe (baca ill-in atau ill-yun) sejenis bagpipe khas Irlandia yang bersaudara dekat dengan Scottish (Highland) Pipe khas Skotlandia, Gaita (bagpipe yagn ditemukan digunakan di wilayah galicia, spanyol dan portugal- tidak banyak yang tahu, mungkin nanti akan ada posting juga tentang musik spanyol). Mereka berbeda bentuk dan cara memegang, juga range suara yang dihasilkan. Lalu ada Harpa yang disebut Clarsach yang suaranya lebih ringan dan berdenting dibanding harpa modern. Belakangan mulai akhir abad 19, instrumen baru seperti Akordion dan Concertina (sejenis akordion kecil), Banjo (dibawa oleh imigran yang pulang dari amerika, banjo sendiri biasa dimainkan oleh para pekerja kulit hitam asal afrika di amerika), Gitar, Bouzouki (sejenis mandolin, asal usulnya kalau tidak salah dari Yunani), Harmonika dan Bodhran/ tambourine sebagai satu2nya alat musik perkusif yang memberi beat pada lagu.
Setelah sempat menjadi musik underground akibat konflik politik (skotlandia, irlandia dengan Inggris), di abad 20 terjadi kebangkitan kembali musik celtic yang ditandai munculnya pemusik2 yang mempelopori Celtic fusion (fusi dengan musik modern seperti pop, hip hop,punk rock, house, bahkan metal) seperti Alan Stivell (thn 60-an),Enya and the Clannad (’70an), Sinead O’ Connor (80′an), Cranberries, U2, The Corrs. Demam Celtic kemudian menyebar berkat pertunjukan Riverdance di broadway thn 1994 (ini juga yang bikin saya terimbas demam Celtic setelah pernah menemukan rekaman pertunjukannya suatu saat di thn 1999). Pertunjukan kelas dunia yang menggabungkan tarian, musik, drama dengan kualitas nomor satu. Musiknya yang dibuat oleh Bill Whelan tidak dapat dianggap sepenuhnya tradisional karena sudah digabungkan deng unsur tap dan ballet jazz amerika.
Kalau mendengarkan musik Celtic yang benar2 tradisional memang rasanya seperti masuk bar kuno penuh orang berpesta, menari dan minum bir. Dan dulu umumnya para pemusik adalah pria (berjenggot, memakai kilt/ rok kotak2 tradisional, dan bernyanyi dengan gaya ‘yo-ho-ho’ seperti bajak laut hehe..). Sebelum akhirnya lagu2 balada mulai dimainkan dan para wanita mulai memainkan alat musik. Belakangan ini, di masa modern ini, Celtic Music mendapat definisi baru sebagai akibat dari strategi pemasaran dari perusahan2 rekaman dan penggunaan ilustrasi musik untuk film yang berbau Celtic (Titanic dan Braveheart contoh bagusnya). Kalau saat ini kita ke toko kaset/CD, Celtic Music kadang berada di bawah label ‘World Music’ atau ‘New Age’. Musik yang kita dapatkan di sini adalah musik yang easy-listening, dreamy (visualisasi yang terbayang adalah padang2 rumput, tebing tinggi dengan sang penyanyi berdiri dengan baju berkibar ditiup angin),dipasarkan dengan embel2 ‘relaxing’ atau ‘evocative’, dan tetap dengan sedikit rasa Irlandia dan skotlandia yang terdengar melalui pemakaian instrumen khas Celtic. Penyanyi Enya sering masuk dalam kategori ini, walaupun tidak banyak juga yang tahu bahwa sebelum ini (dan sekarangpun masih) Enya bersama sudara2nya yang dulu membentuk band Clanad masih juga memainkan versi tradisional dari musik celtic.
Walaupun banyak diprotes oleh para tradisionalis, pemberian makna baru ini sedikit banyak justru menolong memperkenalkan celtic music yang sebenarnya kepada khalayak ramai (seperti yang terjadi pada saya). Setelah awalnya mendengarkan musik2 new age dari Narada Records, lalu Jochen Vogel (aslinya orang Jerman, tetapi banyak mendalami permainan Clarsach), kemudian mendengarkan yang lebih tradisional seperti Helen O’hara, lalu ke grup musik seperti The Chieftains (yang sekarang anggotanya sudah pada eyang2), Dubliners, Young Dubliners dll.
Nah, jadi ingat musik Tradisional Indonesia deh…mungkin untuk mengangkat musik Indonesia juga harus begitu ya, harus menyelusup lewat jalur komersil, bikin musik new age / world music indonesia. Terbayang deh kalau bisa nebeng Putumayo Records…’Indonesian Playground’ (cublak2 suweng dan lagu dolanan bagus lho!) atau ‘Tapanuli Fussion’ …. (bisa aja sih, kan kita punya Vicky Sianipar misalnya). Atau bahkan Lewat Inul dan Bang Haji. Jadi ingat cerita temen yang pernah kuliah musik sebentar di Amrik sana, waktu ada materi World Music dia sempat tercengang karena ada nama pemusik Indonesia di dalamnya. Tau nggak, lagunya "Begadang" yang penyanyinya tak lain Bang Haji itu…!!! Yah, sayangnya terhenti sampai di situ, mungkin orang luar belum melihat potensi musik kita, atau kita nggak ada modal dan jalur yang tepat (nggak ngerti deh kalo soal industri musik, awam nih). Mungkin juga kultur kita tidak sengotot bangsa2 Celtic yang karena ditekan sepanjang jaman jadi malah semangat juang menunjukkan jati diri. Jadi begitulah, asik kok dengerin musik Celtic…Cobain Deh!