Archive for November, 2006

Monday, November 27th, 2006

Setelah ngomongin The Corrs, jadinya pingin nulis tentang Celtic Music. Soalnya saat ini budaya Irlandia dan Skotlandia lah yang dikenal sebagai budaya Celtic. Padahal ternyata, setelah iseng baca sana sini,  Pan Celtica meliputi wilayah dan masalah yang lebih luas lagi.

Kata ‘Celtic’ sendiri asal muasalnya dari bahasa Yunani Kuno ‘Keltoi’ yang artinya kurang lebih ’suku-suku barbar’ (barbaros kurang lebih artinya berbahasa seperti ocehan yang tak jelas/ ocehan bayi). Suku-suku barbar ini sendiri kemungkinan maksudnya bangsa-bangsa Eropa, karena dari sumber2 sejarah, Celtic kuno itu (bangsa2 berbahasa Celtic/ Indo-Eropa) meliputi wilayah Eropa tengah, termasuk yang sekarang ini merupakan Perancis, Swiss, Austria. Pada saat itu mereka menyebut diri sebagai bangsa Gael, Gaul (Galia, di Perancis - ingat Asterix dan Obelix yang terlibat permusuhan panjang dengan bangsa Romawi) dan Galatian (suatu daerah yang sekarang termasuk wilayah Turki).

Sekarang ini, bangsa2 berbahasa Celtic hanya tersisa di Kepulauan Inggris dan beberapa bagian Perancis. Mereka adalah yang tinggal di Irlandia, Skotlandia, Isle of Man, Wales, Cornwall dan Bretagne (Brittany). Tetapi ciri kebudayaan (khususnya musik) yang sama masih bisa ditemukan bahkan sampai ke Cantabria, Asturias dan wilayah utara Portugal (walaupun sudah banyak dipengaruhi musik arab). Unsur yang sama juga mempengaruhi musik di Amerika Serikat dan Kanada (dibawa oleh migrasi besar2an ke benua Amerika akibat kelaparan besar di Irlandia).

Nah, Celtic music ini adalah terminologi yang punya makna politik, dipakai oleh mereka yang menolak disebut sebagai bagian dari Musik Rakyat Inggris atau Musik Rakyat Prancis. Celtic Music terbagi dua jenis, Gaelic (Irlandia dan Skotlandia, cirinya melodinya menggunakan range nada lebih luas-sekitar 2 oktaf dan seringkali dalam pure pentatonic) dan Brythonic ( Bretton dan Wales, cirinya range melodi yang lebih sempit bahkan bisa cuma 1/2 oktaf saja).

Mengenai ciri musik celtic, dari bentuk bisa jadi kurang spesifik, karena bentuk serupa juga ditemukan di bagian lain Eropa ( misalnya jig berasal muasal dari Italia). Tapi biasanya music celtic - uraian berikutnya akan mengambil contoh dari musik tradisional Irlandia- memiliki struktur melodi dan ‘pulse’ ritme yang khas. Perubahan pola yang nyaris tak kentara sepanjang lagu (baik dari ornamentasi maupun dinamik, elaborasi biasanya terjadi pada ritme dan phrasing), melodi dan lirik disebarkan turun temurun puluhan generasi, pergerakan harmoninya simpel (tapi tidak selalu I-IV-V seperti di musik pop), instrumen2nya dimainkan secara unison (satu suara). Pada awalnya selalu instrumental (tanpa vokal) karena digunakan sebagai musik pengiring tarian pada perayaan2 seperti pernikahan dan pesta-pesta (yang indentik dengan minum bir). Pola yang umum adalah 16 bar atau 2 x 8 bar, biasanya 8 bar pertama untuk tarian menggunakan kaki kanan dan 8 bar kedua untuk kaki kiri. Pola ini diulang berkali-kali sekehendak pemainnya sampai tarian berakhir.

Musik tarian biasanya dibedakan menurut time signature nya (tanda birama) dan bukan dari tune/ nada nya. Ada Reels (4/4), hornpipes (4/4 dengan menggunakan not2 1/8 sepanjang lagu), double Jig (6/8), Slip & Hop Jig (9/8), dan Single Jig (12/8). Juga ada adaptasi dari irama asing (seperti Polandia) yaitu polka (2/4) dan Mazurka (3/4).Tariannya sendiri dibagi dua yaitu double/ treble Jig yang menggunakan ’sepatu keras’ sehingga bisa dibunyikan menghentak sambil menari, dan Light Jig yang menggunakan sepatu ringan.

Alat musik yang digunakan paling awal adalah Fiddle (biola, tapi penggunaan kata fiddle mengacu kepada cara memainkannya yang a la tradisional, bukan secara klasik Eropa). Kemudian Flute dan Tin Whistle (seruling kecil, seperti yang dimainkan Andrea Corrs itu lho), awalnya terbuat dari kayu, tapi pada abad 19 mulai difabrikasi secara masal dari bahan logam. Lalu Uillean Pipe (baca ill-in atau ill-yun) sejenis bagpipe khas Irlandia yang bersaudara dekat dengan Scottish (Highland) Pipe khas Skotlandia, Gaita (bagpipe yagn ditemukan digunakan di wilayah galicia, spanyol dan portugal- tidak banyak yang tahu, mungkin nanti akan ada posting juga tentang musik spanyol). Mereka berbeda bentuk dan cara memegang, juga range suara yang dihasilkan. Lalu ada Harpa yang disebut Clarsach yang suaranya lebih ringan dan berdenting dibanding harpa modern. Belakangan mulai akhir abad 19, instrumen baru seperti Akordion dan Concertina (sejenis akordion kecil), Banjo (dibawa oleh imigran yang pulang dari amerika, banjo sendiri biasa dimainkan oleh para pekerja kulit hitam asal afrika di amerika), Gitar, Bouzouki (sejenis mandolin, asal usulnya kalau tidak salah dari Yunani), Harmonika dan Bodhran/ tambourine sebagai satu2nya alat musik perkusif yang memberi beat pada lagu.

Setelah sempat menjadi musik underground akibat konflik politik (skotlandia, irlandia dengan Inggris), di abad 20 terjadi kebangkitan kembali musik celtic yang ditandai munculnya pemusik2 yang mempelopori Celtic fusion (fusi dengan musik modern seperti pop, hip hop,punk rock, house, bahkan metal) seperti Alan Stivell (thn 60-an),Enya and the Clannad (’70an), Sinead O’ Connor (80′an), Cranberries, U2, The Corrs. Demam Celtic kemudian menyebar berkat pertunjukan Riverdance di broadway thn 1994 (ini juga yang bikin saya terimbas demam Celtic setelah pernah menemukan rekaman pertunjukannya suatu saat di thn 1999). Pertunjukan kelas dunia yang menggabungkan tarian, musik, drama dengan kualitas nomor satu. Musiknya yang dibuat oleh Bill Whelan tidak dapat dianggap sepenuhnya tradisional karena sudah digabungkan deng unsur tap dan ballet jazz amerika.

Kalau mendengarkan musik Celtic yang benar2 tradisional memang rasanya seperti masuk bar kuno penuh orang berpesta, menari dan minum bir. Dan dulu umumnya para pemusik adalah pria (berjenggot, memakai kilt/ rok kotak2 tradisional, dan bernyanyi dengan gaya ‘yo-ho-ho’ seperti bajak laut hehe..). Sebelum akhirnya lagu2 balada mulai dimainkan dan para wanita mulai memainkan alat musik. Belakangan ini, di masa modern ini, Celtic Music mendapat definisi baru sebagai akibat dari strategi pemasaran dari perusahan2 rekaman dan penggunaan ilustrasi musik untuk film yang berbau Celtic (Titanic dan Braveheart contoh bagusnya). Kalau saat ini kita ke toko kaset/CD, Celtic Music kadang berada di bawah label ‘World Music’ atau ‘New Age’. Musik yang kita dapatkan di sini adalah musik yang easy-listening, dreamy (visualisasi yang terbayang adalah padang2 rumput, tebing tinggi dengan sang penyanyi berdiri dengan baju berkibar ditiup angin),dipasarkan dengan embel2 ‘relaxing’ atau ‘evocative’, dan tetap dengan sedikit rasa Irlandia dan skotlandia yang terdengar melalui pemakaian instrumen khas Celtic. Penyanyi Enya sering masuk dalam kategori ini, walaupun tidak banyak juga yang tahu bahwa sebelum ini (dan sekarangpun masih) Enya bersama sudara2nya yang dulu membentuk band Clanad masih juga memainkan versi tradisional dari musik celtic.

Walaupun banyak diprotes oleh para tradisionalis, pemberian makna baru ini sedikit banyak justru menolong memperkenalkan celtic music yang sebenarnya kepada khalayak ramai (seperti yang terjadi pada saya). Setelah awalnya mendengarkan musik2 new age dari Narada Records, lalu Jochen Vogel (aslinya orang Jerman, tetapi banyak mendalami permainan Clarsach), kemudian mendengarkan yang lebih tradisional seperti Helen O’hara, lalu ke grup musik seperti The Chieftains (yang sekarang anggotanya sudah pada eyang2), Dubliners, Young Dubliners dll.

Nah, jadi ingat musik Tradisional Indonesia deh…mungkin untuk mengangkat musik Indonesia juga harus begitu ya, harus menyelusup lewat jalur komersil, bikin musik new age / world music indonesia. Terbayang deh kalau bisa nebeng Putumayo Records…’Indonesian Playground’ (cublak2 suweng dan lagu dolanan bagus lho!) atau ‘Tapanuli Fussion’ …. (bisa aja sih, kan kita punya Vicky Sianipar misalnya). Atau bahkan Lewat Inul dan Bang Haji. Jadi ingat cerita temen yang pernah kuliah musik sebentar di Amrik sana, waktu ada materi World Music dia sempat tercengang karena ada nama pemusik Indonesia di dalamnya. Tau nggak, lagunya "Begadang" yang penyanyinya tak lain Bang Haji itu…!!! Yah, sayangnya terhenti sampai di situ, mungkin orang luar belum melihat potensi musik kita, atau kita nggak ada modal dan jalur yang tepat (nggak ngerti deh kalo soal industri musik, awam nih). Mungkin juga kultur kita tidak sengotot bangsa2 Celtic yang karena ditekan sepanjang jaman jadi malah semangat juang menunjukkan jati diri. Jadi begitulah, asik kok dengerin musik Celtic…Cobain Deh!

Monday, November 27th, 2006

"Bun, itu postingan terakhir apaan sih…lagu lagi ato curhat? maksudnya apaan?". Hihi, jawaban di YM yang nyembur nggak nyambung dari tante Yuli waktu dibilangin mau pesen rendang paru padang. Iya tan…itu teks lagu kok…masih teks lagu dari The Corrs (ada temen yang komentarnya lain lagi," Ini fanatik atau kuper sih? kok The Corrs melulu"…hehehe). Fanatik iya, kuper juga iya hahahaha. Nah, maksudnya…ndak ada alasan khusus. Cuma ingin berbagi pesan indah yang nyangkut dalam syairnya (Borrowed Heaven) dan rasa rindu yang indah (Dimming of the day). Itu dari 2 album favorit bunbun yaitu Borrowed Heaven dan Home.

Nah, karena tante Yuli bukan fans berat The Corrs, hehehe, ta’ jelaskeun dikit deh tentang 2 album ini, kenapa jadi favorit bunbun. Borrowed Heaven (kok kalo ditulis inisialnya agak2 saru gitu ya…), buat bunbun adalah album penuh kontemplasi. Musik dan syairnya selintas ringan, tapi -terutama syairnya- penuh perenungan dan kesimpulannya selalu mengingatkan kita untuk tetap bersemangat dan menerima hidup baik itu untuk bagian bahagia atau bagian penuh kehilangan. Konon isi album ini banyak dipengaruhi rasa kehilangan dan upaya mereka ’sembuh’ akibat kehilangan sang ibu. ‘Rasa’ kehilangan sudah bisa tercium dari judul2 Long Night, Goodbye, Angel. Sedangkan lagu2 Baby be Brave, Time Enough for Tears, Hideaway dan Borrowed Heaven sendiri jadi bagian ketika proses penyembuhan berjalan. Kalo dibandingin mungkin mirip2 lagunya Nidji yang bilang ‘biarkan waktu hapus aku…’ itu lah tan…Biar seimbang, tetap ada lagu yang gembira (udah sembuh berarti…) dengan syair sedikit nakal seperti Even If dan Humdrum.

Nah kalau Home ini, album yang materinya lebih tradisional (Irish tentunya dong). Hampir semua lagu kalau tidak menggunakan melodi tradisional, menggunakan syair turun temurun (kebanyakan berasal dari sekitar abad 19-awal 20) bahkan ada yang masih asli menggunakan bahasa Irish. Secara pribadi, daya tarik utamanya pada aspek musiknya sih… Buat bunbun yang penggagum gebukan drum Caroline Corrs…puas banget deh karena di beberapa lagu instrumental berbentuk Reel atau Jig (musik tarian nih, biasa untuk step dancing seperti yang dipertunjukkan oleh kelompok Spirit of the Dance yang pernah mampir ke Indo beberapa tahun yang lalu) bisa denger Caroline memainkan bodhran, sejenis tambourine yang dimainkan dengan menabuh atau menggunakan bones (stik kecil dari tulang) dan spoons (seperti sikat/ kuas) yang dipegang sekaligus oleh satu tangan, dibunyikan bergantian.

Syairnya sendiri banyak berbentuk puisi yang isinya tentang ‘cinta mati’, dan ‘kerinduan-yang-akan-kubawa-sampai-mati’, ‘aku -tak- peduli- kau -sudah- tak- cinta- padaku, aku- tetap- akan -menunggumu- sampai- kapanpun’ . Kebanyakan syair lama Irlandia memang begitu, itulah yang menyebabkan kebanyakan bangsa Eropa (terutama Inggris dan Prancis yang menjajah kawasan Celtic) menganggap budaya celtic patut dihapuskan. Membawa kepada kecengengan, moody dan temperamen. Nah, soal ini mungkin bakal dibikin postingan lain, tentang apa yang disebut Celtic Music. Tapi ada satu lagu yang menurut bunbun syairnya indah banget, mendeskripsikan jatuh cinta di malam yang indah : Where Lagan Stream sing lullaby/There blows a lily fair/ When Twilight gleams is in her eyes/The night is on her hair ….And sometime when the beetles horn/ Hath lulled the eve to sleep/I steal unto her shieling low/And through her dooren peep/There on the cricket’s singing stone/She stirs the bog wood fire/And hum in soft sweet undertones/The song of heart’s desire… Lagu ini jadi inspirasi waktu harus ngarang syair untuk proyek di sekolah musik. Dan lagunya setelah diberi melodi dan diaransir ama Michelle memang jadi duuuuuuuh…indah banget.

Nah, begitu Tan…Entah syair lagu atau curhat, selama dia membawa pesan yang baik tak ada salahnya dibagi. Karena ada yang bilang, seni itu untuk kehidupan lho…jadi harusnya (mudah2an) membuat penikmatnya ingin hidup lebih baik…

Wednesday, November 22nd, 2006

All beauty, all fade away, borrowed

All moonlight return today, borrowed

All sunrise, all shooting stars, borrowed

All earth bound bare feet in clay

You know, we’re standing on

Borrowed, borrowed heaven

All heartache, all rivers cried, borrowed

Don’t stay out too late tonight, borrowed

I love you, don’t wanna die, borrowed

You taste like paradise

I know, I’m breathing in

Borrowed, borrowed heaven

You give me life and I will give it back

But before I do, I’m gonna hold it tight

This is my prayer

All body, all skin, all bone, borrowed…

All silky, all smooth and warm, borrowed…

All pleasure, all pain are one, borrowed…

Almighty I stand alone

I know, I’m living in

Borrowed, borrowed heaven

to the end

Sunday, November 12th, 2006

This old house is falling down around my ears

I’m drowning in a river of my tears

When all my will is gone, you hold me sway

I need you at the dimming of the day

You pull me like the moon pulls on the tide

You know just where I put my better side

What day have come to keep us far apart?

A broken promise or a broken heart?

Now all the bonnie birds have wheeled away

And I need you at the dimming of the day

Come tonight, you’re only what I want

Come tonight, you could be my confident

I see you on the street in company

Why don’t you come and ease your mind with me?

I’m living for the night we steal away

I need you at the dimming of the day

-Dimming of the Day/The Corrs/Home-

Uhuk…snif…Disney Lantern Funtasy..

Sunday, November 5th, 2006

Waduh, hari ini badan rasanya rontok satu-satu. Pinginnya tidur lagi (setelah dari pagi juga tidur terus) tapi hidung mulai gatal, bersin2 dan tenggorokan gatal…mudah2an setelah beberapa dosis Pei Pa Koa bisa normal kembali. Jadi ceritanya semalam, Sabtu malam tanggal 4 November (dan juga nanti tanggal 9 November malam), kita dari m.e. dapet kesempatan manggung lagi - kali ini di Disney Lantern Funtasy Bandung. Mengingat event kali ini lebih besar dan ’serius’ kita juga ingin persiapan lebih serius. Kali ini yang berpartisipasi cuma 8 anak dan diiringi guru dan Kamis yang akan datang bakal ada bintang tamu kuartet Jazznya Michelle Efferin dkk (hayu…nonton…nonton…keren lho!).

Tapi kebetulan hari Sabtu adalah hari sibuk se-m.e. kelas dimulai dari 9.30 pagi nonstop sampai jam 4 sore. Jadi dari jauh hari sudah terbayang bakal seheboh apa hari sabtu kemarin, ditambah latihan terakhir untuk penampilan. Untuk bunda, berarti harus berangkat lebih pagi…sekitar jam 8 dari rumah dan berarti juga hari itu dakocans harus ikut sejak pagi sampai malam. Dan kok ya pas hari itu air ledeng komplek baru menyala lagi setelah sehari sebelumnya mati. Airnya tentu masih kotor penuh tanah, nggak bisa dipakai mandi. Hah…ya sudah…berangkat sajalah. Bawa baju2 ganti, bekal makanan untuk sehari penuh dan bantal untuk dakocans dan bunda…kalau2 nanti sempat curi2 waktu untuk istirahat.

Untungnya kemarin Ainun dan Aisha mengerti untuk tidak bermain terlalu heboh. Mereka tahu harus banyak istirahat supaya malamnya bisa ikut ke "Rumah Mickey Mouse" - istilah Aisha. Jadi mereka lebih banyak tidur2an di ruang Music Family yang kosong setelah kelas pagi. Benar saja, menjelang sore kita kok sudah mulai merasa cape hehehe…puncak kengantukan sekitas jam 3 sore. Akhirnya ketika ada waktu jeda sebentar sebelum gladi resik, Bunda dan Michelle ‘nyender’ sebentar di ruang kosong dan ngobrol2.

Jam 5 sore kita siap2, ganti baju, beres2 alat2 yang akan di bawa…briefing sebentar lalu berangkat. Selain para guru, Risna dan Ka’ Keke MC, ada Vella yang akan bantu kita di lokasi bersama Arum, dan Richard yang dapat peran jadi dokumentator. Lokasinya ternyata di lapangan rumput luas, berbeda dengan waktu diadakan di Jakarta agustus lalu yang lokasinya di lapangan parkir Senayan. Bisa dibayangkan…lapangan rumput di musim kemarau panjang…kalau siang mungkin debu yang mengepul bisa terlihat. Sore itu, walau nggak terlihat tapi tercium dan terasa…mata langsung perih dan hidung gatal2. Untung kayi dan nini nggak jadi ikut, mereka belum lama menjalani operasi katarak dan saat ini masih mudah terkena masalah iritasi mata.

Masing2 anak dan 1 pendamping mendapat free pass. Jatah ainun akhirnya disumbangkan untuk Mami nya Phoebe yang datang sekeluarga. Sayang yah, bunda cuma dapet free pas untuk bunda, jadi Aisha tetap harus bayar tiket  Rp.30.000 (weekend sih). Sekitar jam 6 sore kita masuk ke arena. Di pintu masuk ‘bertahta’ seorang raja yang dandanannya kok agak nyeremin yah seperti pemain pantomim (mungkin mereka bagian dari happening art nya)…hehehe…anak2 langsung menjerit-jerit sewaktu ’sang raja’ melambai-lambai.

Arena berbentuk lorong lebar yang berujung di sebuah panggung raksasa. Selain atraksi lampionnya, ternyata sepanjang lorong ada kios2 yang menjual aneka produk berbau Disney, makanan, minuman, stand dari beberapa penyelenggara kursus untuk anak2 (yang di sini mengadakan berbagai lomba), berbagai permainan pemicu adrenalin seperti perosotan raksasa, bungy trampolin (yang ini jelas dari Fun Station) dan ada beberapa lainnya yang kemarin belum sempat dilongok - mungkin Kamis nanti deh. Suasananya persis Pasar Malam, terutama karena di sana-sini banyak orang melakukan pantomim dan gerakan2 akrobat.

Panggungnya? Besssssaaaaaarrrrrr sekali! Panjangnya mungkin sekitar 30 meter, bertingkat dan latar belakangnya istana lampion. Asik juga sih, tiap penampil keluar dari pintu istana bagaikan pangeran dan tuan puteri (mungkin gitu di benaknya anak2). Nggak heran begitu melihat panggung, reaksi krucil2 ini (gadis2 semua lagi!) macam2. Ainun kelihatannya senang, penasaran campur deg2an dikit. Phoebe (yang memang pede banget deh anaknya, asik)…luarrrrrrrr biasa antusias sampai melonjak-lonjak senang. Michaela, tidak bisa ditebak, tapi sepertinya terpukau. Jesslyn dan Gaby (yang hari ini dandanan rambutnya kembar) langsung terkikik-kikik… hehe…mungkin membayangkan jadi Sleeping Beauty hehehe. Kayaknya Jesslyn sebenarnya agak grogi, sebab di ruang rias (yang waktu masuk ke dalamnya langsung terdengar teriakan ‘bau kudaaaa!’ dari anak2 hehehe) dia tidak berenti-berenti bergayut di pinggang saya. Angel kelihatannya lebih penuh perhitungan, tapi juga antusias.

Nah…yang lain sendiri Helga. Bolak-balik dia nempel ke saya sambil berulang-ulang bilang…"takuuuut…." mungkin karena dia membayangkan harus tampil sendirian di panggung sebesar itu. Dan satu lagi, kakaknya Angel (laki-laki) yang tidak termasuk penampil, malam itu sepertinya bener2 ingin naik panggung , berulangkali mejeng di pintu gerbang istana sampai akhirnya "digeret" ibunya turun lewat belakang panggung. Pantang menyerah, setelah itu dia tetap mondar-mandir digerbang panggung sambil membawa CD, mungkin pikirnya kan sambil bantu nge-set alat musik di panggung hehehe.

Kita mulai di panggung sekitar jam 7.15, setelah selesai adzan Isya. Kelompok pertama 4 gadis dengan lagu It’s a Small World. Kelihatannya sih cukup enjoy dan tidak tegang (yang tegang dan stress sih sebenernya kita2 ini guru2nya, tapi nggak boleh terlihat dong). Hihi…walaupun agak cakadul, tapi lumayan dan semuanya having fun lah! Trus Helga walaupun wajahnya tegang, tapi lumayan lancar lah lainnya. Nah, ini nih…Ainun n Phoebe…keluar dari gerbang istana dengan langkah penuh percaya diri, sambil melambai-lambai hahahaha. Ternyata di antara penonton cilik di bibir panggung banyak teman2 sekolah Phoebe, dan Ainun melambai ke arah Aisha yang bunda titip ke maminya phoebe (aduuuuh….untung aja…makasi ya mom!)…

Setelah itu gabungan 2 kelas yang sudah tampil tadi…tapi…lho kok…mana yah 4 gadis itu kok nggak muncul2? Sambil bingung saya lihat ke bawah panggung…Vella sedang sibuk menggebah 4 gadis itu supaya berlari naik panggung… weleeeeh…rupanya setelah penampilan pertama tadi mereka langsung lari berpencar ke bibir panggung dan nonton dari situ. Ketika sampai di gerbang panggung, mereka juga baru ingat tidak bawa stik untuk perkusi hahaha…heboh deh. Setelah itu seperti biasa kita adakan games…wah hari ini peminatnya banyaaaak sekali dan semuanya bersemangat karena bakal dapat hadiah stiker dan pin ikan paus m.e. Kemarin lagunya ‘Hanky Tank’ tentang kodok, monyet dan ular. Gerakan loncat kodoknya bikin kita cemas karena panggung bergoyang-goyang hehehe.

Fiuh…selesai juga. Setelah beres2 dan Aisha kembali ke pangkuan bunda, sambil berjalan ke arah pintu keluar, kita sempat berfoto di beberapa lampion. Aisha rupanya mengira bakal menemukan boneka Mickey, setidaknya Mickey yang bisa bergerak lah, dan agak kecewa waktu tahu hanya ada lampion Mickey. Waktu itu sudah hampir 8.30 malam, dan baru terasa mata dan hidung pedas karena debu. Akhirnya kita memutuskan pulang saja, jalan2nya kamis besok deh. Tapi karena suuuper lapar, akhirnya Michelle ngajak kita mampir Pizza dan makan di sana (kalau ainun : makan dan ketiduran di sana). Setelah bubar, bunda dan dakocans mampir dulu ke rumah kayi untuk ganti baju dan kalau bisa mandi, mengingat air di rumah katanya mati lagi. Dari sana kita berangkat pulang sekitas 1/2 11 malam. duuuuh udah ngantuk banget nih, ainun dan aisha juga sudah tertidur lelap sejak berangkat dari rumah kayi, waduh, kebayang nih harus nggendongin mereka turun ke rumah.

Hari ini baru terasa badan lelaaaah sekali. Untungnya minggu jadi bisa bangun siang. Tadinya bunda sempat cemas dakocans bakal tumbang juga hari ini karena cape seharian dan terpaan debu semalaman. Tapi alhamdulillah kelihatannya mereka baik-baik saja, malah ainun dari siang sudah semangat bikin PR. Cuman bunda aja yang jadi uhuk…uhuk…dan sniff…snif… kumpulin tenaga n energi untuk hari kamis nanti.