Seliman Tuju Delisan
Monday, August 21st, 2006Begitulah yang tertulis di sisi kiri atas lembar kertas hvs bergambarkan suasana upacara bendera dan sebuah kue ulang tahun bertingkat 10 di sisi kiri kertas. Di bawah kue ada tulisan "selaman ulang taun Edonesia". Rupanya walaupun lelah sehabis perjalanan dari Bandung ke Jakarta (plus mampir ke sebuah saung ditengah2 sawah di Padalarang - plus jalan ke sana dibawah terik matahari bulan Agustus), Ainun masih sangat terkesan oleh acara 17-an di sekolahnya pagi itu. Akibatnya otak tak konsen lagi sehingga ejaan banyak yang tidak tepat.
Walaupun agak merengut kesal ketika diberitahu ejaannya perlu diperbaiki, dicoretnya juga tulisan yang salah dan mulai konsen memperbaikinya. Sampai pada tulisan ‘Edonesia’ dia menoleh dan bertanya, "Bun, kalau yang ini sudah benar kan ya?". Wahahaha…kalau melalui proses berpikir dari otak ke tangan Inun sih memang benar, karena sehari-hari, selama ini, Ainun selalu menyebut ‘Edonesia’ alih-alih ‘Indonesia’. Setelah diingatkan bunyi yang benar, lalu dibetulkannya tulisan di kertasnya itu (walaupun 5 menit setelah itu tetaaaap aja yang disebut Edonesia lagi…untung bukan ‘Edanesia’ - negeri orang-orang Edan heheheh).
Upacara peringatan Hari Kemerdekaan yang berlangsung di sekolah Ainun tanggal 17 yang lalu, merupakan salah satu upacara yang menarik (upacara menarik lainnya adalah ketika saya SD dan 2 kali mengalami semaput akibat amanat pembina upacara yang terlalu panjang hehehe atau waktu SMP hampir tertimpa teman yang semaput akibat sebab yang sama). Kali ini bukan karena saya semaput lagi, memang sih belum sempat sarapan, tapi mata saya sempat melihat ada meja yang sedang dimuati pastel dan lemper di belakang kak Ferry yang main organ untuk mengiringi anak2 ber ‘Indonesia Raya’. Itu sangat membangkitkan semangat patriotisme hahahaha.
Suasana upacara biasa, lengkap dengan aparatur dan aparatus upacaranya. Ada peserta upacara dari TK dan SD kelas 1 dan 2, ada pengibar bendera, protokol, pembaca UUD dan Pancasila, komandan upacara, pembina upacara dan tiang bendera (eh, rasanya di taman sekolah ainun biasanya tidak ada tiang di situ yah…?). Guru2 tidak berbaris dalam satu barisan melainkan berjaga di belakang barisan murid2. Ainun (yang ternyata badannya paling mungil di seluruh SD) berbaris di barisan depan. Para orang tua yang datang bebas ikut berbaris di tempat manapun di belakang guru dan murid (jadi kebanyakan memilih berbaris di bawah tenda permainan hehehe), ikut hormat bendera dan ikut bernyanyi (setelah sekian belas tahun yang lalu….)
Sampai di bagian horor saya, amanat pembina upacara nih. Setelah pasukan diistirahatditempatkan (*halah!), ternyata bukan pidato panjang lebar yang kita dapatkan. Pak pembina cuma menyampaikan sedikit penjelasan tentang arti kata ‘merdeka’ dan ‘pengorbanan’, lalu langsung memanggil beberapa anak dari TK dan SD untuk maju ke tengah lapangan. Di sana dia memberikan bendera merah putih yang diikat ke pipa pralon dan memberikannya ke anak terkecil. Lalu anak2 itu disuruh bersiap di ujung lapangan dan menginstruksikan mereka untuk lari bawa bendera sampai ujung satunya lagi, dan dia akan bertindak sebagai tentara Jepang yang menghadang dan menggeplak anak2 itu (pakai tongkat kertas kok) dan merebut bendera. Yang kena geplak mati nih ceritanya. Jadilah anak2 malah takut dan bersembunyi di belakang pembawa bendera yang jadi bingung hahahaha. Gagal deh, benderanya direbut tentara Jepang. Yak, ganti regu, masih gagal juga walaupun anak2 SD di barisan upacara sepertnya sudah tahu triknya dan teriak2 agar semua maju saja. Ainun di regu ke-3 sampai kena geplak hehe, tapi bendera tetap raib. Setelah regu ke-4 semuanya berani mati dan merangsek maju, baru bendera berhasil sampai ke tujuan dan seluruh peserta upacara melompat2 gembira hahahaha….termasuk para ibu juga bertepuk tangan riuh.
Yah, begitulah cara Pak Agus - pembina upacara - membuat anak2 yang masih imut2 itu mengerti arti kerjasama tim, saling bantu dan rela berkorban untuk mencapai satu tujuan bersama. Bukan dengan pidato panjang lebar yang belum tentu dimengerti anak seusia itu (dan beresiko ada yang tumbang). Melainkan dengan permainan yang dialami dan dirasakan sendiri, menyenangkan, menarik dan pasti jadi memori jangka panjang. Setelah menutup dengan sedikit (sedikiiiit sekali) penjelasan, barisan disiapkan kembali dan upacara dilanjutkan sampai selesai.
Setelah itu anak2 dikumpulkan, bagi yang mau berganti pakaian dipersilahkan, anak2 SD kembali ke kelas sementara lapangan dipersiapkan untuk berbagai permainan -yang tahun ini tidak khas 17 an sih. Bunda dan beberapa orang tua langsung menyerbu stand makanan tadi hehehe…ternyata banyak yang belum sarapan. Sistem permainan juga unik, untuk mengikuti satu permainan harus menggunakan satu kupon. Kupon ini bisa didapatkan dengan menukar uang atau dengan menyumbang bahan makanan, beras atau susu. Semua hasil penjualan kupon akan disumbangkan untuk korban tsunami di pantai selatan jawa barat. Untuk anak2, kalau berhasil dalam permainan ada hadiah2 utama berupa permainan atau alat tulis. Untuk yang tidak berhasil tetap dapat hadiah hiburan berupa snack.
Lomba2 yang tersedia antara lain halang rintang (diikuti Aisha dengan penuh semangat), mencari koin dalam tepung (huiiii…putih semua), lempar target (kreatif nih kakak2nya targetnya dari CD bekas dan botol air mineral bekas yang dirangkai jadi seperti target dart), lempar kaleng pakai bola (wui…bolanya berat), lempar gelang, ular tangga (berhadiah balon yang bisa dipelintir-pelintir), pukul tikus (pakai bola, bukan tikus beneran), pancing ikan gabus (styrofoam, bukan ‘ikan gabus’ yang banyak di sungai Musi) dan "Super Deal" yaitu ambil bola dalam karung, kalau ada 3 yang berwarna sama, dapat deh 2 milyar hehehe…Walaupun mulai terik, semua gembira!
Acara yang menurut saya sangat berhasil! Fun dan bersenang2nya ada, silaturahmi dengan sesama orang tua murid dan dengan guru juga ada, renungannya ada, melatih kepekaan sosialnya ada, makan2nya juga ada hehehe. Kita diingatkan bahwa ketika kita merayakan dengan serba kecukupan, ada orang2 lain yang saat ini sedang prihatin. Dan, kita tetap bisa membagi kebahagiaan itu. Bersimpati dan berempati bukan dengan ikut bersedih, tapi dengan menjalankan hidup dan tugas kita dan tetap berbuat sesuatu sesuai kapasitas kita. Dan pas sekali kalau nilai2 ini yang ditanamkan pada anak2 kita, adik2 kecil kita dengan cara yang sama sekali jauh dari menggurui. Momen hari kemerdekaan ini memang benar2 pas. Selamat Libur Panjang (sudah lewat tak apalah, Ainun masih libur hari ini) dan Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia!