Archive for August, 2006

Seliman Tuju Delisan

Monday, August 21st, 2006

Begitulah yang tertulis di sisi kiri atas lembar kertas hvs bergambarkan suasana upacara bendera dan sebuah kue ulang tahun bertingkat 10 di sisi kiri kertas. Di bawah kue ada tulisan "selaman ulang taun Edonesia". Rupanya walaupun lelah sehabis perjalanan dari Bandung ke Jakarta (plus mampir ke sebuah saung ditengah2 sawah di Padalarang - plus jalan ke sana dibawah terik matahari bulan Agustus), Ainun masih sangat terkesan oleh acara 17-an di sekolahnya pagi itu. Akibatnya otak tak konsen lagi sehingga ejaan banyak yang tidak tepat.

Walaupun agak merengut kesal ketika diberitahu ejaannya perlu diperbaiki, dicoretnya juga tulisan yang salah dan mulai konsen memperbaikinya. Sampai pada tulisan ‘Edonesia’ dia menoleh dan bertanya, "Bun, kalau yang ini sudah benar kan ya?". Wahahaha…kalau melalui proses berpikir dari otak ke tangan Inun sih memang benar, karena sehari-hari, selama ini, Ainun selalu menyebut ‘Edonesia’ alih-alih ‘Indonesia’. Setelah diingatkan bunyi yang benar, lalu dibetulkannya tulisan di kertasnya itu (walaupun 5 menit setelah itu tetaaaap aja yang disebut Edonesia lagi…untung bukan ‘Edanesia’ - negeri orang-orang Edan heheheh).

Upacara peringatan Hari Kemerdekaan yang berlangsung di sekolah Ainun tanggal 17 yang lalu, merupakan salah satu upacara yang menarik (upacara menarik lainnya adalah ketika saya SD dan 2 kali mengalami semaput akibat amanat pembina upacara yang terlalu panjang hehehe atau waktu SMP hampir tertimpa teman yang semaput akibat sebab yang sama). Kali ini bukan karena saya semaput lagi, memang sih belum sempat sarapan, tapi mata saya sempat melihat ada meja yang sedang dimuati pastel dan lemper di belakang kak Ferry yang main organ untuk mengiringi anak2 ber ‘Indonesia Raya’. Itu sangat membangkitkan semangat patriotisme hahahaha.

Suasana upacara biasa, lengkap dengan aparatur dan aparatus upacaranya. Ada peserta upacara dari TK dan SD kelas 1 dan 2, ada pengibar bendera, protokol, pembaca UUD dan Pancasila, komandan upacara, pembina upacara dan tiang bendera (eh, rasanya di taman sekolah ainun biasanya tidak ada tiang di situ yah…?). Guru2 tidak berbaris dalam satu barisan melainkan berjaga di belakang barisan murid2. Ainun (yang ternyata badannya paling mungil di seluruh SD) berbaris di barisan depan. Para orang tua yang datang bebas ikut berbaris di tempat manapun di belakang guru dan murid (jadi kebanyakan memilih berbaris di bawah tenda permainan hehehe), ikut hormat bendera dan ikut bernyanyi (setelah sekian belas tahun yang lalu….)

Sampai di bagian horor saya, amanat pembina upacara nih. Setelah pasukan diistirahatditempatkan (*halah!), ternyata bukan pidato panjang lebar yang kita dapatkan. Pak pembina cuma menyampaikan sedikit penjelasan tentang arti kata ‘merdeka’ dan ‘pengorbanan’, lalu langsung memanggil beberapa anak dari TK dan SD untuk maju ke tengah lapangan. Di sana dia memberikan bendera merah putih yang diikat ke pipa pralon dan memberikannya ke anak terkecil. Lalu anak2 itu disuruh bersiap di ujung lapangan dan menginstruksikan mereka untuk lari bawa bendera sampai ujung satunya lagi, dan dia akan bertindak sebagai tentara Jepang yang menghadang dan menggeplak anak2 itu (pakai tongkat kertas kok) dan merebut bendera. Yang kena geplak mati nih ceritanya. Jadilah anak2 malah takut dan bersembunyi di belakang pembawa bendera yang jadi bingung hahahaha. Gagal deh, benderanya direbut tentara Jepang. Yak, ganti regu, masih gagal juga walaupun anak2 SD di barisan upacara sepertnya sudah tahu triknya dan teriak2 agar semua maju saja. Ainun di regu ke-3 sampai kena geplak hehe, tapi bendera tetap raib. Setelah regu ke-4 semuanya berani mati dan merangsek maju, baru bendera berhasil sampai ke tujuan dan seluruh peserta upacara melompat2 gembira hahahaha….termasuk para ibu juga bertepuk tangan riuh.

Yah, begitulah cara Pak Agus - pembina upacara - membuat anak2 yang masih imut2 itu mengerti arti kerjasama tim, saling bantu dan rela berkorban untuk mencapai satu tujuan bersama. Bukan dengan pidato panjang lebar yang belum tentu dimengerti anak seusia itu (dan beresiko ada yang tumbang). Melainkan dengan permainan yang dialami dan dirasakan sendiri, menyenangkan, menarik dan pasti jadi memori jangka panjang. Setelah menutup dengan sedikit (sedikiiiit sekali) penjelasan, barisan disiapkan kembali dan upacara dilanjutkan sampai selesai.

Setelah itu anak2 dikumpulkan, bagi yang mau berganti pakaian dipersilahkan, anak2 SD kembali ke kelas sementara lapangan dipersiapkan untuk berbagai permainan -yang tahun ini tidak khas 17 an sih. Bunda dan beberapa orang tua langsung menyerbu stand makanan tadi hehehe…ternyata banyak yang belum sarapan. Sistem permainan juga unik, untuk mengikuti satu permainan harus menggunakan satu kupon. Kupon ini bisa didapatkan dengan menukar uang atau dengan menyumbang bahan makanan, beras atau susu. Semua hasil penjualan kupon akan disumbangkan untuk korban tsunami di pantai selatan jawa barat. Untuk anak2, kalau berhasil dalam permainan ada hadiah2 utama berupa permainan atau alat tulis. Untuk yang tidak berhasil tetap dapat hadiah hiburan berupa snack.

Lomba2 yang tersedia antara lain halang rintang (diikuti Aisha dengan penuh semangat), mencari koin dalam tepung (huiiii…putih semua), lempar target (kreatif nih kakak2nya targetnya dari CD bekas dan botol air mineral bekas yang dirangkai jadi seperti target dart), lempar kaleng pakai bola (wui…bolanya berat), lempar gelang, ular tangga (berhadiah balon yang bisa dipelintir-pelintir), pukul tikus (pakai bola, bukan tikus beneran), pancing ikan gabus (styrofoam, bukan ‘ikan gabus’ yang banyak di sungai Musi) dan "Super Deal" yaitu ambil bola dalam karung, kalau ada 3 yang berwarna sama, dapat deh 2 milyar hehehe…Walaupun mulai terik, semua gembira!

Acara yang menurut saya sangat berhasil! Fun dan bersenang2nya ada, silaturahmi dengan sesama orang tua murid dan dengan guru juga ada, renungannya ada, melatih kepekaan sosialnya ada, makan2nya juga ada hehehe. Kita diingatkan bahwa ketika kita merayakan dengan serba kecukupan, ada orang2 lain yang saat ini sedang prihatin. Dan, kita tetap bisa membagi kebahagiaan itu. Bersimpati dan berempati bukan dengan ikut bersedih, tapi dengan menjalankan hidup dan tugas kita dan tetap berbuat sesuatu sesuai kapasitas kita. Dan pas sekali kalau nilai2 ini yang ditanamkan pada anak2 kita, adik2 kecil kita dengan cara yang sama sekali jauh dari menggurui. Momen hari kemerdekaan ini memang benar2 pas. Selamat Libur Panjang (sudah lewat tak apalah, Ainun masih libur hari ini) dan Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia!

Panggung Gemerlap Si Dino

Saturday, August 12th, 2006

Ini cerita tentang betapa hebatnya daya tarik panggung bagi anak2. Minggu lalu, bu Kepsek Michelle mengabarkan bahwa m.e music school bersama induk semang kami Fun Station dapat kesempatan tampil berpromosi sekaligus manggung dalam rangkaian acara ulang tahun Istana Plaza di Bandung. Giliran kami memang cukup malam, jam 19.00 wib, tapi tak apa lah toh sebagian besar sekolah libur di hari Sabtu. Lagipula menjadi penampil terakhir berarti lebih leluasa, bisa memanfaatkan panggung tanpa diburu-buru penampil selanjutnya.

Tawaran ini cukup mendadak, tapi dengan pede-nya kami iya-kan karena sebelumnya beberapa kali kami sudah pernah melakukan promosi di beberapa mall di bandung. Kali ini adik2 kecil juga akan diajak tampil. Sebagian besar dari mereka baru mengikuti program kami 1-2 bulan. Tapi seperti juga para pengajarnya, ternyata adik2 dan para orang tuanya juga pede aja, malahan sangat bersemangat.

Hari Kamis tanggal 10 latihan terakhir, kelihatannya semua siap. Menurut para orang tua, seminggu ini tiba2 anak2 jadi rajin manteng di depan piano dan berlatih. Yang gadis2 sudah meributkan mau pakai kostum apa. Hmm, peraturan khusus sekolah kami adalah tampil alami, santai apa adanya khas anak2, polos, dan make up sangat tidak dianjurkan. Jadi ditetapkan semua berkaos putih dan bercelana jeans.

Di hari -H nya, saya sudah siap di tempat sejak sore berhubung siang itu sekolah Ainun juga mengisi acara di sana. Aisha dengan sangat menyesal tidak diajak karena agak pilek dan mengingat rentang waktu cukup panjang dari siang sampai malam. Panggung bertema Dinosaurus di atrium itu dikelilingi berbagai stand berbau dinosaurus. Ada komputer interaktif dengan touch-screen berisi berbagai info mengenai dinosaurus, game dino, CD interaktif dino, buku dino, mainan dino, puzzle 3 D dino (tante Yuli pasti seneng deh), dan display gambar berjenis-jenis dinosaurus beserta penjelasannya. Oh ya, di gerbang ‘jurrasic park’ ini ada patung T-Rex nyaris seukuran aslinya dikelilingi telur2 yang sedang menetas. Hm…agak menyeramkan lho sebenarnya.

Selepas magrib rombongan dari Fun Station bersama Michelle datang. Eh, kita juga bawa dino sendiri lho, maskot Fun Station memang dino. Terus terang dino kita lebih lucu, gemuk dan ramah lingkungan, terbukti sejak datang beliau terus dikerubungi anak2 pengunjung atrium. Satu persatu adik2 datang sambil tersenyum lebar. Tiba2 salah seorang murid saya, Mathew yang datang menemani kakanya yang akan tampil, menjawil-jawil saya. " Miss, miss!" (saya dan semua pengajar di panggil ‘miss’ melengkapi berbagai panggilan lain : Bu, mbak, teteh, cici, bahkan ‘de’ kalau kadang2 sedang terlihat seperti anak SMP)

"Miss, atiuw ao oton! atiuw ao anyi!", katanya. Mathew baru berusia 2 tahun, belum bisa mengucap kata2 dengan jelas tapi sangat cerdas-musik. IBunya yang datang di belakangnya menjelaskan seminggu ini atiuw rajin latihan ‘coconut’, komposisi sangat2 sederhana tapi ritmis untuk memperkenalkan batita pada instrumen piano. "Hm, mathew mau naik panggung? main piano dan nyanyi sama miss diana?", tanya saya yang langsung di-iya-kan dengan penuh semangat dan mata berbinar. Akhirnya kami sepakat menyelipkan Mathew tampil setelah penampilan kakaknya.

Kakak Mathew yaitu Michaella tampil main perkusi bersama teman sekelasnya Jesslyn diiringi Angel dan Gaby bermain piano. Saya jadi ikut naik panggung juga untuk memberi aba2 pada anak2 ini yang usianya 4-5 tahunan. Semua sangat rileks dan semua cengar cengir, hebat! Malahan setelah lagu selesai mereka tidak ingin turun panggung wahahah. Lalu Mathew menyanyi dengan sangat bersemangat sampai lupa menekan tuts piano, juga ogah turun panggung. Ega, murid selanjutnya sudah berusia 10 tahun, baru 2 bulan kenal piano dan sudah mulai bisa grogi. Ega membawakan dua lagu, satu dimainkan seorang diri, satunya lagi berduet dengan saya dan menjalankan tips n trick dari saya dengan baik "kalau salah di tengah2, bikin aja seolah2 lagunya memang harus berhenti" hehe. Lalu ada Jilly, gadis 9 tahun yang gayanya ‘asik banget, cuek tapi keren’ memainkan biola jazz dengan iringan piano Miss Michelle dan mengundang tepuk tangan riuh.

Wah, saya agak lupa2 urutan penampilan malam itu, yang jelas Ainun juga ikut tampil bersama Phoebe teman sekelasnya memainkan piano dan tambourine dikomandoi guru mereka Mr. Jono. Aduh, senang sekali melihat mereka tampil sangat menikmati, bahkan walaupun tanpa monitor suara yang berarti suara yang terdengar di panggung cuma sayup2. Lalu ada Audrey, yang tampil memainkan lagu jazz. Lalu ada sesi permainan yang mengundang pengunjung anak2 untuk menari dan menyanyi di atas panggung mengikuti gerakan kami (dan dino lucu kita). Wah, cukup ramai juga lho bagian ini. Rencananya penampilan ditutup duet para pengajar, tapi ternyata karena masalah sound system (halu…haluuu…kok ga ada soundman nya yaaa??? jangan2 udah pulang) jadi batal deh. Yah, akhirnya setelah bagi2 donat dan makan bareng2 (hehe, ini asiknya punya kepsek Michelle, hobi resmi sekolah kami : makan!), kita beres2 dan meninggalkan panggung.

Sampai di rumah jam 10 malam dan Ainun sudah tertidur sejak dalam perjalanan. Kelihatannya cape sekali. Sabtu paginya ternyata dia sudah bangun pagi2 sekali dan mulai ribut membangunkan saya karena takut terlambat ikut kelas piano hari sabtu itu. Aduh Inun, ini baru juga jam 7, lesnya kan baru jam 10 nanti!. Hah, ternyata bukan cuma saya yang dikejutkan karena antusiasme anak2 ini. Ayah Phoebe juga bercerita bahwa Phoebe bangun awal dan penuh semangat pagi itu dan tidak berlambat-lambat makan seperti biasanya. Lalu ada Jesslyn dan Gaby yang jatah lesnya hari kamis tapi sabtu kemarin datang bermain ke Fun Station, juga tak terlihat sisa2 kelelahan. Dan para orang tuanya juga membahas penampilan kemarin dengan bersemangat. Lalu Helga yang datang berkesan malas tapi di kelas melakukan sight reading sangat cemerlang sampai 3 lagu dan akhirnya jadi malas pulang.

Yah ternyata kesempatan tampil di panggung, walaupun dalam acara promosi, buka resital atau konser, dengan materi sederhana pun merupakan pendorong yang luar biasa buat anak2 ini. Mereka dengan senang menunjukkan apa yang telah mereka dapat 2 bulan ini. Semuanya dengan gembira dan tanpa beban. Mudah2an dengan seringnya kita melakukan penampilan begini kita bisa mengembalikan musik ke fitrahnya, musik yang seharusnya menggembirakan dan memainkannya seharusnya tidak membebani atau bikin tangan berkeringat dingin. Sekali lagi, saluuuut deh buat adik2 kecil kita!

Gugu ‘n Tiru

Saturday, August 12th, 2006

Yaaa, maksudnya guru, orang yang digugu dan ditiru. Kenapa topiknya tentang guru, padahal saat ini menjelang 17 Agustus, bukan dekat2 Hari Pendidikan Nasional? Hm, mungkin karena baru belakangan ini saya merasa benar2 mencebur ke dunia pendidikan dan merasakan beratnya tanggung jawab para perenang di ‘kolam’ ini. Jadi akhir2 ini saya sering mengingat-ingat lagi perjalanan masa sekolah saya dulu beserta hal2 positif yang bisa saya ambil dari kenangan2 itu. Memang sih, ‘kolam’ saya bukan pendidikan tinggi yang hi-tech atau super canggih. Justru ‘kolam’nya terasa seperti keseharian waktu saya belajar bersama dakocans di lingkungan rumah. Tapi justru inilah beratnya berenang (apalagi menyelam) di pendidikan usia dini, karena justru masa2 emas inilah landasan penting dalam hidup manusia. Penuh kesempatan tapi juga rentan dan penuh resiko. Di usia dini anak belajar dalam lingkungan keluarga dan sedikit demi sedikit mulai belajar bersosialisasi dengan dunia luar. Para perenang harus ekstra hati2, penuh pengertian dan kesabaran, penuh kasih sayang tapi sekaligus tegas.

Adik saya (dan ibu saya tentunya) pernah mengalami pengalaman buruk dengan salah seorang pengajar di taman kanak-kanak adik saya. Kurang jelas juga bagaimana latar belakang sang guru ini atau faktor2 yang mendorongnya, beliau mempunyai temperamen cukup keras bahkan untuk ukuran orang dewasa. Singkatnya Gualak banget! Ketika itu adik saya tiba2 mengalami stress berat, mogok sekolah, sering sakit dan bicaranya menjadi gagap dan semakin tertekan karena orang tidak sabar menunggunya selesai bicara. Setelah diusut rupanya di sekolah dia kerap ditekan gurunya untuk menjawab pertanyaan secepat dan sebenar mungkin (tidak jelas juga apa hukumannya kalau tidak memenuhi tuntutan ini) dan dimarahi kalau makannya lambat (memang adik suka mengemut makanan - sering terjadi pada anak kecil kan). Untungnya setelah dikomunikasikan dengan pihak sekolah dan dilakukan pengamatan terhadap guru yang bersangkutan, diputuskan untuk memberi guru pengganti dan sementara menarik guru yang lama. Sedikit demi sedikit bicara adik kembali normal seperti semula. Sedangkan guru tadi kabarnya mengundurkan diri tak lama kemudian.

Untungnya saya tak pernah mengalami ‘masa TK kelabu’ seperti adik. Guru TK saya sangat baik, lembut dan keibuan. Cuma sayangnya karena terbatasnya akses ke dunia luar dulu di Pendopo, guru2 TK nya jadi ‘kurang gaul’, terutama dalam perbendaharaan lagu. Lagu yang diajarkan cuma lenggang2 kangkung sampai saya lulus TK hahahaha. Dan mengingat pengalaman saya bersekolah, ternyata banyak juga guru yang patut diacungi jempol baik untuk dedikasinya maupun kreativitasnya dalam mengajar. Guru SD kelas 2 saya di Bandung dulu masih saya ingat sebagai ’sangat unik untuk jamannya’. Gayanya santai, mengajar kadang pakai celana jeans, penuh canda tapi serius dalam soal materi pelajaran. Beliau selalu membiasakan kami berdiskusi, singkatnya membuka komunikasi 2 arah. Beliau bahkan menolak dipanggil ‘Pak’ dan mewajibkan kami semua memanggilnya ‘kak’. Mungkin di abad 21 ini cukup lumrah guru muda dipanggil demikian, tapi untuk ukuran tahun’82, wah…sepertinya cukup progresif.

Nah bicara soal unik2, sewaktu SMP ada guru senirupa merangkap guru sejarah yang cara mengajarnya seperti bercerita, lengkap dengan gaya mendalang. Yak, benar2 seperti mendalangi wayang kulit begitu! Yang jelas cara ini klop dengan materi kala itu tentang kerajaan2 nusantara. Mantap, menarik, mudah diingat, langsung nempel seperti kalau nonton sinetron satria madangkara. Lalu ada guru matematika yang untuk memompa semangat belajar dan berkompetisi murid2nya, mencanangkan program ‘nilai plus’ (haaaa…temans SMP 11 masih ingat dengan guru yang satu ini? kadang galak dan gemar menjitak, kadang baik hati dan gemar bercanda). Permainannya berupa soal matematis yang harus dipecahkan secepat dan sebenar mungkin. Cuma 10 orang pertama yang berhak mendapat nilai. Nilainya cuma 1/8, 1/5, kadang 1/4 kalau soalnya agak rumit, tapi nilai2 ini bisa dikumpulkan untuk ditambahkan pada nilai ulangan yang akan datang - kalau nilai ulangan kurang. Alhasil, usai pelajaran ini, tak jarang kaki biru dan memar akibat terantuk meja kursi saat balapan menyerahkan buku latihan ke meja guru…hahaha…no pain no gain lah!

Tapi guru favorit saya adalah guru piano saya, kak Butet - sesuai namanya, berdarah Batak tapi lama tinggal di Jogja. Walaupun sangat tomboy, tak ada rok dalam kamusnya, rambutnya tak pernah panjang, suaranya lantang menggelegar (khas Pangaribuan katanya), gemar merokok (bahkan di kala hamil!) dan tertawanya ngakak, ternyata dalam kesehariannya di rumah sangat rapi, apik (waaaa…soal ini ngaku kalah jauh deh) dan lemah lembut penuh kasih sayang pada suami + anak2nya. Kak Butet ini motivator ulung, selalu bisa membuat murid2nya antusias, optimis dan ingin belajar lebih banyak (nah, ini…INGIN belajar, bukan terpaksa harus belajar). Dibalik suaranya yang keras, muatannya selalu positif. Efek sampingnya adalah murid2nya sangat awet, jarang ada yang berhenti kecuali karena sebab2 luar biasa seperti kasus saya : pindah kota. Bulan lalu ketika bersama dakocans pulang ke Jakarta, saya sempat mengontak si Kakak ini (disambut teriakan histeris menggelegar plus tanya jawab mendalam pakai gue-elu…hahaha…berarti saya udah dianggap dewasa heheh). Dan dia senang sekali mengetahui saya mulai mengajar anak2…karena ternyata dia pun sekarang menjadi….KepalaSekolah TK!!! hahaha…terpaksa berhenti merokok katanya, sehingga badannya jadi melar n titip kapan2 dioleh2i kaos super besar dari FO di Bandung.

Dari kak Butet ini saya mengambil pelajaran bahwa jadi guru sebagai profesi seharusnya, tepatnya, adalah menjadi fasilitator dari proses transfer pengetahuan. Menjadi teman, pendamping dalam proses belajar. Dengan berjalan bersama, proses pembelajaran juga dialami ’sang pengajar. Belajar lebih bijak, lebih sabar, belajar untuk belajar dari segala hal di sekitar kita bisa didapat dari kegiatan mengajar. Karena pengajar juga dituntut memecahkan masalah - masalah pada murid adalah masalah bagi pengajar- pengajar harus bisa kreatif memanfaatkan segenap pengetahuan dan tanda2 di sekitar kita untuk memecahkan masalah tersebut. Belajar memang proses seumur hidup, menjadi guru adalah suatu profesi, tapi nyata sekali bagi saya bahwa guru yang sesungguhnya adalah hidup yang kita jalani ini. Menjadi anak adalah proses pembelajaran, menjadi ibu juga proses pembelajaran, menjadi suami atau istri juga pembelajaran. Tapi tentunya harus punya hati bersih dan pikiran terbuka untuk mengambil hikmah dari apa yang kita jalani. Yah sementara itu, mari belajar menjadi fasilitator yang baik untuk segala hal yang baik! Salam!

Dakocans Back to School

Tuesday, August 1st, 2006

Pertengahan Juli lalu dakocans sudah mulai masuk sekolah lagi. Aisha masih di klab bermain lamanya, Ainun msuk SD. Dulu ketika  SD dan sempat berpindah-pindah sekolah beberapa kali, saya sempat juga mengalami beberapa kali ’stress awal sekolah’ yang biasanya berlangsung 1-2 hari saja. Seingat saya sih penyebabnya karena lingkungan baru, pelajaran baru atau karena belum punya teman. Kasus terparah adalah sewaktu baru pindah dari sumatera ke Bandung dan mengalami ‘renjatan kebudayaan’ (maksudnya culture shock). Hari pertama masuk sekolah langsung disuguhi tulisan di papan tulis " Eusian"…disambung kalimat2 yang tak beda dengan kode2 antargalaktik bagi saya…hahaha…ternyata hari itu ujian bahasa Sunda. Memang saya tak diharuskan ikut ujian tersebut, tapi dalam benak saya terbayang masa depan kelabu kalau harus belajar bahasa antah berantah begini. Jadi hari-hari berikutnya saya tiba2 mempunyai penyakit baru :sakit perut berkepanjangan dan baru berakhir ketika saya mendapatkan kursus intensif bahasa Sunda (plus bimbingan PR) dari Si Emak yang bekerja di rumah nenek saya 2 minggu kemudian.

Mengingat saat2 sedih begitu, ketika Ainun pertama kali akan masuk sekolah, bunda sibuk memberi pengkondisian. Sekedar memberi gambaran suasana sekolah, teman2 baru, kegiatan di sekolah, adab dan sopan santun di sekolah…semacam itulah. Dan untungnya lagi sekolah jaman sekarang biasanya mengadakan free trial atau masa mencoba cuma-cuma sebelum kita memutuskan untuk memasukkan anak ke sekolah tersebut. Buat para ortu, ini benar2 harus dimanfaatkan untuk melihat sejauh mana kesiapan anak mengikuti program sekolah tersebut, materi dan metode sekolah, juga kesiapan para pengajarnya. Dari beberapa sekolah yang sreg di hati, setelah mengikuti Trial akhirnya Ainun menentukan sendiri pilihannya. Walaupun sudah diberi gambaran bahwa sekolah ini masa belajarnya cukup panjang dan mungkin akan agak berat untuk AInun yang terbiasa sangat santai, dia berketetapan hati memilih sekolah tsb.

Masa trial yang mulus2 saja membuat bunda tak terlalu kuatir ketika menjelang masuk sekolah berbagai hal (teknis dan non-teknis lagi2) mengalihkan perhatian bunda dari pengkondisian. Ainun juga terlihat antusias sekali menyambut hari pertamanya sekolah. Tapiiii….ternyata hari pertama, ke-dua, ke-tiga…pokoknya minggu pertama dipenuhi isak tangis Ainun. Dari bincang-bincang dengan pengajarnya bunda dapat informasi bahwa Ainun sangat mudah panik ketika berhadapan dengan situasi tak terduga dalam skala yang kecil sekalipun. Seperti ketika diberi waktu seminggu untuk menyampul buku dan ternyata esoknya teman2 sudah membawa kembali buku ke sekolah….wah….wajahnya langsung pias. Acara makan juga membuat AInun tertekan, rupanya dia takut tidak bisa menghabiskan porsi makan yang diambilnya sendiri, juga takut ketauan tidak suka makanan tertentu, dan takut belum selesai makan ketika teman2nya sudah selesai.

Jadilah kami membicarakan rencana pembinaan jangka panjang untuk Ainun. Penekanannya mungkin ke pembinaan karakter (character building maksudnya), sehingga masalah apapun di manapun (di sekolah, di rumah) yang menekan AInun, dia tetap bisa menerima pelajaran di sekolah dengan baik. Dia bisa mengungkapkan perasaannya tanpa takut dan malu, menyadari bahwa dalam hidup akan selalu ada masalah dan masalah itu harus dihadapi, dicari pemecahan yang optimal setidaknya untuk dirinya sendiri. Bunda bersyukur sekali staf pengajar sangat memberi perhatian terhadap masalah murid, membina hubungan yang dekat dan saling percaya dengan murid, dan ketika AInun mengalami masalah dengan pelajaran (yang intinya juga karena kurang pede, bukan kurang bisa), gurunya menyediakan waktu 15 menit sepulang sekolah untuk memberi tambahan agar memompa percaya diri Ainun.

Awal bulan ini sepertinya inun sudah mulai beradaptasi dengan baik. Lagi-lagi bunda bersyukur teman-teman di sekolahnya sangat suportif. Kakak2 kelas 2 menjaga dan membantu adik2 kelas 1, sesama teman juga saling mendukung (tidak ada yang menertawakan Ainun ketika di menangis gara2 tidak suka makan). AInun sudah semangat bangun pagi, tertawa-tawa sepulang sekolah, mengerjakan PR dengan antusias dan mulai makan makanan yang disediakan sekolah. Mudah2an untuk seterusnya makin membaik dan Ainun bisa ‘tahan banting’ seperti adiknya.

Adiknya? Nah cerita Aisha lain lagi. Dia tidak pernah bermasalah dengan lingkungan baru atau situasi tak terduga. Berbeda dengan kakaknya yang cenderung pemikir dan banyak pertimbangan, Aisha tipe ‘hajar bleh’ dan tak banyak pertimbangan. Acara favoritnya saat ini adalah menjemput Ainun. DI sekolah Ainun dia sudah membentuk geng bermain dengan anak2 TK (yang menunggu belum dijemput pulang) yang semuanya laki2!!!! Permainan mereka tak jauh dari memanjat, bergelantungan, tapi kadang malah rukun menulis dan menggambar bersama.

Di sekolahnya sendiri, pada minggu pertama dia sempt ngotot membawa agar2 bubuk yang belum dimasak. Pada waktu bunda menjemput pulang, dia berlari2 girang sambil menenteng plastik kresek berisi kotak makan. "BUndaaaa!!! agal2nya sudah digoreng!", katanya. Walaaah, ternyata dari cerita para fasilitatornya, begitu kepala bunda hilang dari pandangan, Aisha langsung lari ke dapur dan minta Teh Nina-juru masak sekolah- untuk ‘menggoreng’ agar2 Aisha. Walaupun sambil bingung, teh Nina memsakkan juga agar2 Aisha. Setiap beberapa menit Aisha lari ke dapur mengecek progress pembuatan agar2. Siangnya disantap beramai-ramai dan sisanya masuk kotak makan yang dibawa pulang itu Waduuuh…Aisha, bunda sih salut pada kepedean dan spontanitasmu itu. Tapi jangan sering2 minta masak di sekolah ya nak, bisa-bisa bulan depan SPP aisha ditambahi uang lelah teh nina, biaya elpiji dan ganti gula pasir hahahaha!

From Warnet With Love

Tuesday, August 1st, 2006

Lama absen mengeposkan tulisan karena beberapa masalah teknis (dan non-teknis terutama), posting pertama ternyata puisi. Kenapa puisi? Karena pendek. Kenapa harus pendek segala? Karena ternyata menulis blog di warnet tidak nyaman. Ini bukan berarti warnet langganan tidak nyaman lho! Nyaman kok, sejauh ini yang ternyaman yang tertemukan. Ruangan lega tidak pakai kotak2 sempit, sirkulasi udara dan cahaya berlimpah, ada snack dan minuman ringan, ada wc bersih dan mushala, ada TV -jadi bisa ngenet sambil dengar infotainment (soalnya ini yang paling sering disetel ibu warnet) dan…ada kolam besar berisi ikan koi - ini andalan kalau2 harus bawa dakocans. Faktor tidak nyaman yah standar warnet lah : kurangnya privacy. Tidak bisa terlalu ‘ekspresif’ ketika menulis blog. Kalau keliatan agak2 senyum2 sendiri atau bertampang sedih pasti mengundang tanda tanya nasabah warnet yang lain.

Singkatnya kalau samai trulisan ini terpampang di blog, hanya ada dua kemungkinan : masalah teknis (dan non-teknis terutama) sudah berhasil diatasi sehingga saya sudah menulis dengan nyaman di depan kompie di rumah sambil pasang lagu2 kesukaan yang sesuai suasana hati - di warnet pilihan lagu tergantung siapa yang sedang tugas jaga hehehe (paling parah kombinasi yang terjadi adalah yang jaga sedang senang lagu2 penuh semangat dan ngebeat, sedangkan suasana hati sedang sendu…waduh…nggak nyambung banget, langsung ilfill deh untuk menulisnya)….atau ini ditulis tetap di warnet, dan saya berhasil menemukan waktu dimana saya menjadi satu2nya nasabah yang hadir dan suasana netral karena sedang tak disetel lagu apapun. Kira2???