Alang-Alang
Thursday, June 29th, 2006Ada yang menarik perhatian sepanjang perjalanan naik mobil dari Bandung ke Jakarta. Bukit2 yang terpapas pembangunan jalan tol Cipularang sudah tak menampakkan merahnya tanah. Rumput dan alang-alang sudah menutupi tepian jalan. Sebagian sudah cukup tinggi dan dihiasi bunga rumput. Ada yang berwarna coklat biasa, ada juga yang berwarna merah atau keunguan. Pemandangan yang menarik bibir untuk tersenyum secara tak sadar.
Sejak kecil entah kenapa saya sangat senang melihat padang rumput atau alang-alang. Mungkin karena terbiasa, saya dilahirkan di daerah penuh alang-alang, bekas bukaan hutan di Sumatera Selatan yang bernama Pendopo. Nama ini sendiri sering membingungkan orang yang bertanya, apakah itu tempat di jawa? Atau bagian dari Keraton Jogja? Kamu orang keraton? wahahaha. Pendopo sebuah surga kecil di tengah hutan. Sisa bukaan hutan menjelma menjadi padang alang-alang dan di beberapa tempat berupa rawa dangkal yang kita sebut sebagai ’sawah’ saking inginnya kita melihat sawah. Tanah di sana memang hanya cocok untuk berladang.
Walaupun terisolasi, tapi kota super kecil ini sangat modern. Ada rumah sakit yang cukup lengkap dengan dokter2 spesialis, bioskop yang cukup up to date, sarana olahraga lengkap -kolam renang, lapangan tenis, bulutangkis, voli, stadion sepakbola sederhana, bahkan lintasan bowling! Taman bermain anak2, restoran padang, restoran cina, martabak Tambi, toko kelontong dan sekolah mulai SD sampai SMA. Semua penghuni saling kenal, saling percaya dan saling menjaga. Karena itu yang perlu ditakutkan cuma semak-semak dan kolong rumah panggung yang sering dijadikan habitat ular kobra.
Ketika saya berumur 2.5 tahun dan merengek ingin masuk sekolah (karena ingin ikut upacara bendera! hehehe) ibu saya dengan enteng membiarkan saya berjalan ke sekolah bersama teman2 yang tak lebih besar dari saya. Pada usia 5,5 tahun saya masuk SD yang berarti ada peningkatan jarak tempuh ke sekolah, menurut perasaan saya saat itu jaraknya mungkin 1 kilometer (harus dilihat mempertimbangkan relativitas langkah dan pandangan anak kecil). yang jelas cukup jauh karena harus melewati kantor ayah, taman, deretan toko dannn…saya mengintip penuh rindu ke ’sawah’ di sisi sekolah.
Di halaman sekolah, selain cukup banyak alang2 untuk bermain, ada juga dinding turap dari batu bata yang sangat mengundang untuk dipanjat. Jadilah tiap istirahat kami berlomba-lomba memanjat dinding yang tingginya sekitar 3 kali tinggi badan kita (lagi2, ingat relativitas!). Dan sawah itu…suatu saat seelsai pelajaran olahraga, saya dan beberapa teman sangat tak tahan dan berjanji mengambil rute pulang tak biasa : lewat sawah! Waaah, senangnya…dan kita sampai di rumah kuyup sebatas pangkal paha. Ah, ibu saya pasti nggak tahu, beliau bekerja di Rumah Sakit sampai jam 1 siang. Tapi ternyata, pembantu setia kami, bi Iyem tetap loyal dan memberikan laporan hariannya. Jadilah ibu sempat kehilangan kata2 beberapa detik sebelum kemudian tersembur kata2 kekhawatiran dan penjelasan panjang lebar mengenai apa saja yang ada di rawa-rawa…termasuk di dalamnya lintah dan ular sanca. Walaupun tak begitu percaya masalah ular sanca, sejak saat itu saya memutuskan tidak pulang lewat rute sawah karena takut amarah ibunda…hahahaha
Yak, sebelum saya menjadi ibu dari seorang anak (yah, sekarang 2), saya tidak pernah bisa memahami kakuatiran seorang ibu. Ternyata keterikatan yang demikian kuat bisa melahirkan banyak ketakutan dan kekuatiran. jangankan membayangkan Ainun dan Aisha masuk rawa, memergoki mereka cebar-cebur di kolan depan rumah saja saya sudah blingsatan. Yang paling dikuatirkan ibu2 pastilah masalah anak yang sakit. Pernah suatu saat setelah acara field trip ke sebuah peternakan, Ainun panas tinggi tak turun2, diikuti muntah2 tak berhenti seharian dan kemudian diare berkali-kali. Dan ternyata sebagian besar anak2 yang ikut acara ke peternakan mengalami sakit yang sama. Infeksi sejenis virus katanya. Wah, diam2 dalam hati saya memasukkan peternakan ke dalam blacklist a la bunda.
Sulit sekali untuk memisahkan kekuatiran beralasan dan tak beralasan dalam urusan anak. Sampai suatu titik saya teringat masa kecil bahagia saya dan tercenung. Mungkin dakocans tak bisa merasakan kebahagiaan seperti yang saya rasakan di masa kecil saya. Ingatan ini mengingatkan saya untuk kuatir secara proporsional. Kalau mereka main ke taman atau kebun, tak masalah asal prosesi pengulasan lotion anti nyamuk tak ketinggalan. Dan saya merasa boleh2 saja sedikit cerewet mengingatkan para guru untuk membersihkan tangan anak2 setelah mereka bermain tanah, dan jelas obat cacing harus rutin diberikan tiap 4-6 bulan sekali. Kalau setelah semua prosedur standar di atas, mereka tetap sakit, yah apa boleh buat heheh.
Ada lagi yang harus proporsional, memperlihatkan ketakutan kita! Berlaku untuk segala jenis ketakutan. Tapi contoh paling jelas adalah ketakutan saya pada laba-laba. Saya bisa berkeringat dingin melihat laba-laba pada jarak pandang. Tapi menjelaskan kepada anak2 harus dalam kerangka pengetahuan. Bahwa ada jenis2 laba-laba yang beracun, sehingga lebih baik tidak mengelus-elus laba-laba kalau tak yakin benar jenis yang aman dipegang. Lebih baik tidak mengelus laba-laba sama sekali ;p. Kelihatannya dakocans tidak takut kepada laba-laba, kecuali ketika ada laba-laba berdiameter 5 cm berbulu yang agak menakutkan (agak??? Sangat!!!!) mampir ke ruang keluarga kami.
Saya tidak yakin benar sejak kapan muncul bermacam ketakutan dan kekuatiran, berubahnya seorang anak tanpa ketakutan menjadi manusia penuh pertimbangan. Mungkin seiring pertambahan umur dan tumbuhnya berbagai rasa memiliki, timbul juga rasa takut kehilangan. Takut kehilangan teman, takut kehilangan kenyamanan, takut kehilangan cinta, takut kehilangan jati diri, takut menghadapi masa depan…Wah…betapa repotnya jadi orang dewasa! Tapi setelah menatap rumpun alang-alang sepanjang Cipularang, ada rasa kebebasan yang tersentuh lagi. Dan sekarang mungkin -meminjam istilah Ebiet G Ade : tanyakan (lihatlah) pada rumput yang bergoyang, kapanpun saya merasa kuatir saya akan mengingat alang-alang. Alang-alang kebebasan di masa kecil saya yang mengingatkan bahwa kita bisa hidup tanpa rasa takut. Semoga.