Archive for June, 2006

Alang-Alang

Thursday, June 29th, 2006

Ada yang menarik perhatian sepanjang perjalanan naik mobil dari Bandung ke Jakarta. Bukit2 yang terpapas pembangunan jalan tol Cipularang sudah tak menampakkan merahnya tanah. Rumput dan alang-alang sudah menutupi tepian jalan. Sebagian sudah cukup tinggi dan dihiasi bunga rumput. Ada yang berwarna coklat biasa, ada juga yang berwarna merah atau keunguan. Pemandangan yang menarik bibir untuk tersenyum secara tak sadar.

Sejak kecil entah kenapa saya sangat senang melihat padang rumput atau alang-alang. Mungkin karena terbiasa, saya dilahirkan di daerah penuh alang-alang, bekas bukaan hutan di Sumatera Selatan yang bernama Pendopo. Nama ini sendiri sering membingungkan orang yang bertanya, apakah itu tempat di jawa? Atau bagian dari Keraton Jogja? Kamu orang keraton? wahahaha. Pendopo sebuah surga kecil di tengah hutan. Sisa bukaan hutan menjelma menjadi padang alang-alang dan di beberapa tempat berupa rawa dangkal yang kita sebut sebagai ’sawah’ saking inginnya kita melihat sawah. Tanah di sana memang hanya cocok untuk berladang.

Walaupun terisolasi, tapi kota super kecil ini sangat modern. Ada rumah sakit yang cukup lengkap dengan dokter2 spesialis, bioskop yang cukup up to date, sarana olahraga lengkap -kolam renang, lapangan tenis, bulutangkis, voli, stadion sepakbola sederhana, bahkan lintasan bowling! Taman bermain anak2, restoran padang, restoran cina, martabak Tambi, toko kelontong dan sekolah mulai SD sampai SMA. Semua penghuni saling kenal, saling percaya dan saling menjaga. Karena itu yang perlu ditakutkan cuma semak-semak dan kolong rumah panggung yang sering dijadikan habitat ular kobra.

Ketika saya berumur 2.5 tahun dan merengek ingin masuk sekolah (karena ingin ikut upacara bendera! hehehe) ibu saya dengan enteng membiarkan saya berjalan ke sekolah bersama teman2 yang tak lebih besar dari saya. Pada usia 5,5 tahun saya masuk SD yang berarti ada peningkatan jarak tempuh ke sekolah, menurut perasaan saya saat itu jaraknya mungkin 1 kilometer (harus dilihat mempertimbangkan relativitas langkah dan pandangan anak kecil). yang jelas cukup jauh karena harus melewati kantor ayah, taman, deretan toko dannn…saya mengintip penuh rindu ke ’sawah’ di sisi sekolah.

Di halaman sekolah, selain cukup banyak alang2 untuk bermain, ada juga dinding turap dari batu bata yang sangat mengundang untuk dipanjat. Jadilah tiap istirahat kami berlomba-lomba memanjat dinding yang tingginya sekitar 3 kali tinggi badan kita (lagi2, ingat relativitas!). Dan sawah itu…suatu saat seelsai pelajaran olahraga, saya dan beberapa teman sangat tak tahan dan berjanji mengambil rute pulang tak biasa : lewat sawah! Waaah, senangnya…dan kita sampai di rumah kuyup sebatas pangkal paha. Ah, ibu saya pasti nggak tahu, beliau bekerja di Rumah Sakit sampai jam 1 siang. Tapi ternyata, pembantu setia kami, bi Iyem tetap loyal dan memberikan laporan hariannya. Jadilah ibu sempat kehilangan kata2 beberapa detik sebelum kemudian tersembur kata2 kekhawatiran dan penjelasan panjang lebar mengenai apa saja yang ada di rawa-rawa…termasuk di dalamnya lintah dan ular sanca. Walaupun tak begitu percaya masalah ular sanca, sejak saat itu saya memutuskan tidak pulang lewat rute sawah karena takut amarah ibunda…hahahaha

Yak, sebelum saya menjadi ibu dari seorang anak (yah, sekarang 2), saya tidak pernah bisa memahami kakuatiran seorang ibu. Ternyata keterikatan yang demikian kuat bisa melahirkan banyak ketakutan dan kekuatiran. jangankan membayangkan Ainun dan Aisha masuk rawa, memergoki mereka cebar-cebur di kolan depan rumah saja saya sudah blingsatan. Yang paling dikuatirkan ibu2 pastilah masalah anak yang sakit. Pernah suatu saat setelah acara field trip ke sebuah peternakan, Ainun panas tinggi tak turun2, diikuti muntah2 tak berhenti seharian dan kemudian diare berkali-kali. Dan ternyata sebagian besar anak2 yang ikut acara ke peternakan mengalami sakit yang sama. Infeksi sejenis virus katanya. Wah, diam2 dalam hati saya memasukkan peternakan ke dalam blacklist a la bunda.

Sulit sekali untuk memisahkan kekuatiran beralasan dan tak beralasan dalam urusan anak. Sampai suatu titik saya teringat masa kecil bahagia saya dan tercenung. Mungkin dakocans tak bisa merasakan kebahagiaan seperti yang saya rasakan di masa kecil saya. Ingatan ini mengingatkan saya untuk kuatir secara proporsional. Kalau mereka main ke taman atau kebun, tak masalah asal prosesi pengulasan lotion anti nyamuk tak ketinggalan. Dan saya merasa boleh2 saja sedikit cerewet mengingatkan para guru untuk membersihkan tangan anak2 setelah mereka bermain tanah, dan jelas obat cacing harus rutin diberikan tiap 4-6 bulan sekali. Kalau setelah semua prosedur standar di atas, mereka tetap sakit, yah apa boleh buat heheh.

Ada lagi yang harus proporsional, memperlihatkan ketakutan kita! Berlaku untuk segala jenis ketakutan. Tapi contoh paling jelas adalah ketakutan saya pada laba-laba. Saya bisa berkeringat dingin melihat laba-laba pada jarak pandang. Tapi menjelaskan kepada anak2 harus dalam kerangka pengetahuan. Bahwa ada jenis2 laba-laba yang beracun, sehingga lebih baik tidak mengelus-elus laba-laba kalau tak yakin benar jenis yang aman dipegang. Lebih baik tidak mengelus laba-laba sama sekali ;p. Kelihatannya dakocans tidak takut kepada laba-laba, kecuali ketika ada laba-laba berdiameter 5 cm berbulu yang agak menakutkan (agak??? Sangat!!!!) mampir ke ruang keluarga kami.

Saya tidak yakin benar sejak kapan muncul bermacam ketakutan dan kekuatiran, berubahnya seorang anak tanpa ketakutan menjadi manusia penuh pertimbangan. Mungkin seiring pertambahan umur dan tumbuhnya berbagai rasa memiliki, timbul juga rasa takut kehilangan. Takut kehilangan teman, takut kehilangan kenyamanan, takut kehilangan cinta, takut kehilangan jati diri, takut menghadapi masa depan…Wah…betapa repotnya jadi orang dewasa! Tapi setelah menatap rumpun alang-alang sepanjang Cipularang, ada rasa kebebasan yang tersentuh lagi. Dan sekarang mungkin -meminjam istilah Ebiet G Ade : tanyakan (lihatlah) pada rumput yang bergoyang, kapanpun saya merasa kuatir saya akan mengingat alang-alang. Alang-alang  kebebasan di masa kecil saya yang mengingatkan bahwa kita bisa hidup tanpa rasa takut. Semoga.

Jakarta !!!!!

Wednesday, June 28th, 2006

Wah, kenapa judulnya ‘Jakarta’ dengan banyak tanda seru? Karena begitulah semangat dakocans menyambut rencana pergi beberapa hari ke Jakarta. Kalau diingat-ingat, terakhir kita sekeluarga ke Jakarta di bulan April, durasinya cuma 3 jam. Untuk menginap di Jakarta…oooo…terakhir kali terjadi sudah 3 tahun yang lalu!!!

Sebenarnya apa yang menyebabkan kita, PaHe isi 3 ini, sulit sekali meluangkan waktu untuk sowan ke Jakarta? Padahal ayah hampir tiap minggu  pergi ke Jakarta untuk urusan pekerjaan. Mungkin kita ‘keenakan’ karena walaupun Eyangnya para dakocans tinggal di Jakarta, mereka termasuk pengunjung setia Bandung (termasuk yang menambahi kemacetan-akhir-minggu yah? hehehe). Lebaran pun tak memberi kesempatan untuk pulang ke jakarta, karena justru pada saat itu keluarga besar berkumpul di Bandung, di rumah Eyangnya Bunda. Yah, jadi setelah sekian lama, akhirnya kita pergi ke Jakarta!!!!!

Sepanjang perjalanan lewat Tol Cipularang, dakocans heboh berceloteh tentang pohon teh, bukit, gunung, alang-alang (yang mengingatkan akan masa kecil bunda-nanti akan ada postingnya), sampai menghitung papan kilometer sejak Cikampek sampai Cawang. Sesampainya di rumah Uti (panggilan Eyang putri versi dakocans) menjelang magrib, langsung dilanjutkan dengan jalan2 ke PIM. Wah, dakocans serasa jadi kol dalam bakul (bagi yang belum baca Supernova-Petir, ini istilahnya Dewi Lestari untuk orang yang berada di tempat yang seharusnya, klop, cocok). Bahkan Aisha sempat berlama-lama melihat gelaran superhero di lantai dasar PIM 1. Sibuk mengamati superhero wanita yang katanya "ih, pake baju malu" hahahahaha, menatap penuh harap pada sepatu dan sandal Batman, mengutak atik jambul boneka Superman seukuran Aisha dan mencermati miniatur Batman dengan berbagai senjata dan kendaraannya. Sampai matanya tertutup malam itu, tak hentinya Aisha ‘melafalkan’ apa yang dilihatnya hari itu.

Senin pagi kita bangun awal, sesuai rencana hari ini kita akan jalan2 ke Ancol. Tante Yenni sampai mengambil cuti sehari untuk mengantar para keponakan. Sampai lupa, ternyata Jakarta pada pukul 8 pagi sudah cukup panas. Sesampainya di Ancol kita langsung menuju Sea World, sudah mulai ramai tapi untungnya antrian tidak terlalu ramai. Uti senyum2 karena mendapatkan diskon tiket masuk sebesar 40 % untuk lansia setelah memperlihatkan KTP nya. Di dalam agak padat dan kacau balau, banyak anggota rombongan sekolah yang duduk2 dan berfoto berlama-lama di depam akuarium. Ternyata favorit dakocans tetap ikan hiu, piranha (walah…kok ya senengnya yang seram2) dan akhirnya dugong alias ikan duyung. Aisha sempat kecewa karena tidak menemukan ‘putri duyung’ hahahaha…dan Ainun dengan sabar menjelaskan kepada adiknya bahwa putri duyung hanya ada di film…Aisha akhirnya manggut2 dan memutuskan menonton ikan duyung makan rumput. Hahahahaha….

Agenda selanjutnya Dunia Fantasi. Waduh, belum sampai tempat parkir, kita sudah terlibat antrian dengan puluhan (atau ratusan?) bus. Dan dari jauh terlihat antrian puluhan meter di tempat penjualan tiket. Wah, tanggung…maju teruslah! Dufan ternyata sangat padat. Prioritas pertama :isi perut. Setelah itu kita harus cari wahana yang tidak butuh antri terlalu lama. Rumah Miring jelas favorit anak2, berulangkali mereka masuk-keluar sampai pusing sendiri. Rumah Jahil antriannya panjang sekali…dan jelas bakal kehilangan ‘kejahilan’ kalau dalamnya terlalu sesak. Istana Boneka, wajib nih, setelah antri 1/2 jam dibawah terik matahari akhirnya kita naik ke perahunya. Wah, dakocans sibuk bergaya a la Miss Universe, lambai sana-sini kepada boneka2 yang sebagian besar sudah tak bisa bergerak, rusak atau tak terlihat karena lampunya mati hehehehe. Setelah itu stamina kita agak berkurang drastis, setelah main undur-undur dan kunang-kunang, kita memutuskan pulang saja lah.

Di jalan menuju pintu keluar, kita menemukan permainan menarik : Naik Motor!!! Walaupun untuk satu termin kita harus membayar lagi 10 rb rupiah, tak masalahlah. Akhrinya Aisha berboncengan dengan tante Yenni dan Ainun dengan bunda. Motornya berjalan ‘ajrut-ajrutan’, lintasannya sempit dan banyak pengemudi (kebanyakan ibu2) yang kesulitan mengendalikan motornya. Alhasil para operator sibuk memperbaiki pembatar jalur yang lepas tertabrak, pot bunga yang pecah tersenggol, dan motor yang bertabrakan. Pada termin ke-2, AInun sudah lihai memainkan pedal gas dan rem sehingga bunda hanya perlu mengarahkan setir yang memang agak terlalu berat untuk anak2. Wah, untung deh, menjelang pulang kita menemukan permainan yang bisa dinikmati anak2 sampai tertawa terbahak-bahak dan tetap senyum2 walaupun lelah.

Di perjalanan pulang semua tertidur - kecuali Yenni yang pegang setir (dengan ngebutnya, mungkin sudah ingin tidur siang juga hehehe). Sesampainya di rumah dakocans sudah segar lagi, sementara 3 orang dewasanya pulas tertidur. Sore harinya kita disambangi Yuliazmi, teman SMP-SMA bunda yang sudah 5 tahun nggak ketemu. Aduuuh senangnya, kapan ya bunda bisa gemuk seperti Yuli sekarang. Asal tau saja, dulu kita beratnya sama2 di bawah 40 kilo hahahaha. Untuk kisah sore itu, bisa dilihat kalau mampir ke blog nya YUli di http://yuli.bedeng.com/ lengkap dengan foto2nya hehehe.

Hari selasa acaranya tur PIM setelah bunda menyelesaikan cuci-mencuci pakaian kotor dakocans yang banyaaaak sekali. Yang wajib didatangi tentunya toko buku. Sore harinya tur PS sekaligus melaksanakan janjian ketemu Ria, teman bunda waktu kuliah dulu. Eh, di sana ternyata bertemu beberapa teman lama yang tak disangka-sangka. Uti terpaksa pulang lebih awal karena masalah perut, mungkin akibat kelelahan jalan2 hari Senin. Sedangkan kita menghabiskan waktu di toko buku , favorit bunda dan dakocans, sampai hampir jam 10 malam. Jadi malam itu bunda wanti2 dakocans untuk tidak merecoki Uti karena Utinya sedang sakit. Mengharukannya mereka berdoa sangat serius ketika shalat untuk kesembuhan utinya…juga sebelum tidur mengengok uti di kamarnya sambil mengucapkan ucapan semoga cepat sembuh…hehehe

Ternyata hari Rabu kita dijemput lebih cepat, sekitar tengah hari ayah akan jemput kita di rumah Uti. Terpaksa beberapa janji dengan teman lama bunda batalkan. Tapi pagi harinya bunda dan Aisha masih sempat (lagi2) ke PIM,  dan pulang sekitar jam 1 siang dengan Aisha yang menangis tersedu-sedu menolak pulang (waduh..maaf kalau ada yang direpotkan di PIM ya). Ternyata Ainun juga sedih luar biasa harus kembali ke Bandung. Waduuuh lagi…bunda tetap harus kembali ke Bandung untuk mengajar hari Kamis dan Sabtu, ingat, tanggal 9 mau pertunjukan lho! Lagipula Uti hari kamis ini harus pergi ke Garut, jadi tak mungkin Ainun tetap di Jakarta. Hmm, bunda jelaskan bahwa dalam hidup ini ada saatnya berlibur dan bersenang-senang, ada juga saatnya bekerja. Memang saat ini liburan sekolah, tapi juga saat bunda bekerja. Setelah pekerjaan dikerjakan, boleh bersantai sedikit. Mereka cuma manggut-manggut sambil terus terisak. Jadi deh mereka bertangis-tangisan (Utinya juga kelihatan berkaca-kaca) di dalam mobil sampai akhirnya kelelahan dan tertidur.

Yah, jadi kemungkinan dalam rangka menghabiskan sisa liburan (dan gaji bunda hehehe), Minggu depan ini PaHe akan berkunjung lagi ke Jakarta. Karena ternyata kita bertiga masih rindu udara jakarta, Uti dan kakung, dan banyak yang belum sempat diobrolkan. Jeng Ra, masih kah engkau di Jakarta? Khusus bunda, masih pingin ngutak-atik kamar jaman dulu, menemukan benda2 penuh kenangan yang bisa bikin senyum2 sendiri. Terpaksa deh ayah ditinggal di Bandung. Nggak apa2 ya yah, cuma pada saat liburan sekolah kok, heheheh.

Pengakuan Ainun

Saturday, June 10th, 2006

Wah, ceritanya jadi panjang nih. Tadinya mau dimasukkan sebagai tambahan pada posting sebelumnya. Tapi sepertinya agak terlalu panjang. OK lah…kita mulai cerita baru. Malam minggu ini, bunda dan dakocans jalan-jalan sampai larut malam. Kita main ke Ciwalk (ciwalk lagii…ciwalk lagi) bersama Tante Rany, Oom Willy dan Mama Tante Rany. Sebelumnya dakocans main di rumah Tante Rany sejak siang setelah pulang kelas musik. Jadi jelas kegiatan hari ini cukup melelahkan buat mereka. Ciwalk ramai sekali malam ini karena sepertinya banyak acara nonton bareng piala dunia. Untuk keluar parkir saja sampai perlu setengah jam.

Kita sampai di rumah sekitar jam 10 malam, mungkin lebih yah. Dan sesampainya di rumah Ainun jadi sangat rewel dan manja. Berakhir dengan menangis dan heboh meminta maaf. Lho kok? ada apa gerangan nih. Akhirnya Ainun sambil berurai air mata membuat pengakuan. Bunda…Ainun menyesal sekali, karena sebenernya yang memotong rambut boneka itu Ainun. Juga yang memotong vitrage kita berdua, tapi ainun cuman sebentar. Wah…bunda jadi bengong neh. Kaget juga karena setahu bunda bukan kebiasaan Ainun untuk berbohong. waduh…apa yang harus bunda lakukan dan katakan kepada Ainun yah?

Hm, ok…pertama bunda tanya, kenapa Ainun sampai tidak berkata jujur dan menyalahkan adiknya. Mmm…soalnya Ainun bingung dan takut nanti dimarahi bunda. Dan AInun bingung mau jawab apa kalau bunda tanya kenapa Ainun potong rambut bonekanya, soalnya Ainun lagi pengen aja potong rambut sesuatu. Dan kalau korden itu Aisha yang pertama gunting, trus Ainun ikut sebentar. Nah, sekarang kenapa tiba-tiba Ainun mengaku kepada bunda? Yaaa…Ainun merasa tidak enak dan kasihan dede karena bunda tulis cerita di internet bahwa dede yang gunting-gunting, padahal Ainun juga ikut gunting.

Ooh, begitu…bunda jadi sedikit lega dan juga terharu mendengarnya. Berarti Ainun akhirnya berani mengakui kesalahannya karena merasa kasihan dan sayang kepada adiknya. Juga karena merasa mengingkari kejadian sebenarnya, dan melegakan bahwa hal itu cukup mengganggunya. Berarti nuraninya bekerja dengan baik. Yah, sudah kalau begitu pertama-tama Ainun harus minta maaf kepada Aisha. Kedua, apapun yang kesalahan yang Ainun lakukan jangan pernah merasa takut akan dimarahi ayah atau bunda sehingga jadi tidak jujur. Kita mungkin bisa sedikit marah, pada kasus tertentu-kemungkinan besar justru karena kita kuatir, tapi ayah dan bunda pasti tetap menyayangi Ainun. Dan ketiga ingat bahwa melemparkan kesalahan kepada orang lain (aisha dalam kasus ini) bukan hal yang baik karena menyebabkan orang lain mendapat hukuman (hukuman psikologis tepatnya kali yah). Kan terbayang Nun, Aisha nggak mau mengaku karena memang dia tidak melakukan, tapi bunda percaya sekali dia melakukan. Enggak enak kan rasanya tidak dipercayai? Ainun mengangguk-angguk sambil terus berkata," AInun bener-bener menyesal Bunda".

Hhh…yah…jadinya bunda juga introspeksi diri nih malam ini. Setelah sebelumnya bunda peluk Aisha erat-erat dan minta maaf karena tidak mempercayai Aisha soal rambut boneka. Aisha cuma bilang sambil ngantuk," bunda, kan bener Ainun yang gunting boneka lho". Iya…iya sayang….Teteh barusan juga kasi tau bunda kalau teteh yang gunting. "Oooo, iya!", katanya sambil merem hehehe. Duh, sepertinya selama ini bunda terperangkap stereotip Aisha - Ainun. Sebagai orang tua memang kadang sulit juga untuk obyektif terhadap lebih dari satu anak dan cenderung mudah menempelkan label. Dan kadang kita merasa tahu benar karakter mereka, padahal sangat mungkin kita berprasangka. Dan ketika prasangka itu kita pakai dalam mendidik mereka, kita bisa melakukan kesalahan besar di titik itu. Princess bisa saja nakal, bisa saja kepingin melakukan kegiatan macho, sedangkan BatGirl bisa saja suatu saat punya mood jadi putri atau peri yang cantik. Yang penting mereka tidak takut mengungkapkan keinginan dan permintaan mereka. Yah, bunda cukup bersyukur sampai hari ini masih bisa memelihara keterbukaan dengan anak-anak. Sehingga kesalahpahaman sekecil apapun bisa cepat terdeteksi dan diperbaiki. Dan yang jelas kami saaaaaaangat saling menyayangi dan itu harus dipelihara :)….Selamat menjelang subuh!!!!

Ngintip??? Bintit!!!

Friday, June 9th, 2006

Mundur ke 20 tahun yang lalu, ucapan "Awas kalo ngintip ya…tar bintit lho!" sepertinya sering sekali terdengar, terutama pada acara ganti baju menjelang pelajaran olahraga di SD dulu. Hehehe, entah apa yang menyebabkan kita dulu sangat paranoid (atau tepatnya ge-er) bahwa bakal ada yang mengintip kita ganti pakaian. Tapi tentunya bukan gara2 sering mengintip ketika terus saya terkena serentetan episode bintitan saat kelas 2 dan 3 SMP. Kalau soal ini saya yakin 120 %, kalau mau mengintip pun sudah tidak bisa karena lubang kunci sudah berevolusi tak sebesar jaman orang tua kita dulu. Yah, gara2 sempat bintitan tak sembuh-sembuh, mata ini sempat kena insisi yang kurang rapi. Sehingga kalau dilihat, dibawah mata kiri saya sekarang ada ‘lesung mata’ yang manis ( ^_^).

Nah, ngomong-ngomong soal bintitan. Akhirnya saya dapat info dari salah seorang paman, obatnya gampang saja. Cukup dikompres dengan potongan bawang putih. Dan ternyata memang ampuh, kalau dikompres sebelum membesar, dia akan mengecil sendiri dan hilang. Kalau bisulnya sudah terjadi, biasanya efeknya seperti terbakar, mengering lalu terkelupas. Pokoknya terima kasih bawang putih deh saya tak perlu lagi mengalami insisi dan mendapat ‘lesung2 mata’  baru.

Setelah saya punya d’dakocans, ternyata masalah ini sering juga terjadi pada mereka, terutama setelah mulai masuk sekolah. Mungkin karena sering keasikan bermain sering ngucek mata dengan tangan kotor, kadang berpasir. Ibu saya malah punya teori (yang mungkin saja memang benar secara medis) bintit ada hubungannya dengan cacingan. Semacam reaksi alergi begitu? Jadi biasanya kalau bintit muncul, sama dengan alarm untuk minum sirup obat cacing.

Kalau Ainun yang terkena, sangat mudah membujuknya untuk dikompres bawang putih. Dengan tabahnya dia menahan pedas-panas di kelopak matanya, sehingga alhamdulillah tidak pernah sampai jadi bisul. Tapi Aisha…waduh, akan menolak dengan segala daya upaya. Mulai dari menangis menghiba-hiba (dengan maksud bikin bundanya tak tega) sampai meronta-ronta dan lari kabur sambil menutupi matanya. Mau diolesi ketika dia sudah tidurpun ternyata tidak bisa, dia bisa dengan anehnya bangun ketika matanya tersentuh bawang, langsung menangis sambil mengucek2 matanya. Waduh…bisa jadi luka nantinya. Mau dibawa ke dokter pun tak mungkin dia bisa kooperatif. Akhirnya biasanya itu bintit didiamkan sampai ‘pecah’ atau mengecil. Sementara itu selama 3 mingguan dia jadi berwajah aneh dan tetap cuek-cuek saja..hehehe.

Nah, saat ini nih, sedang terjadi episode bintit pada Aisha. Dan seperti biasa masih sulit diobati. Bunda sedang cari akal bagaimana supaya dia mau pasrah diobati ketika terjadi peristiwa hari ini. Hari ini bunda sedang tidak enak badan, jadi dipaksakan untuk istirahat dan tidur, dengan efek samping d’dakocans terbiarkan bermain tanpa pengawasan bunda. Terdengar beberapa kali mereka naik-turun dari dan ke ruang kerja di atas kamar tidur bunda. Di ruang kerja ini ada komputer ayah, buku2 ayah yang super banyak, mainan2 dalam kontainer, juga alat2 jahit bunda. Biasanya bunda agak berhati-hati membiarkan mereka main di ruang kerja. Terutama setelah bulan lalu Aisha mengambil gunting dan memotongi senar gitar ayahnya, yang membuat si ayah lumayan murka dan bunda yang ketempuhan beli senar dan memasang di gitar ayah.

Hari ini saking pusingnya, saya membiarkan saja mereka main di atas, toh ada Ainun yang pasti langsung melapor kalau ada kenakalan adiknya. Sore-sore neneknya menelpon. Sambil ngobrol, saya dengar dari atas ada suara aneh…preeet,prepet,preeet…oooh mungkin Aisha sedang main velcro/prepetan yang akan saya pakai untuk media pengajaran. Selesai telpon saya naik ke atas dan membeku bengong beberapa detik melihat pemandangan di lantai atas. Aisha sedang asik duduk di atas bantal dekat jendela, memegang gunting daaaannnn…mengguntingi vitrage!!! Sekarang vitragenya sudah seperti rok model dekonstruktif dari perancang adibusana…robekan terbesar setinggi kepala Ainun! Waduuuuh…itu vitrage punyanya Bu Nana - kita mengontrak rumah rekan sejawat ayah yang bernama Pak Nana, otomatis istrinya dipanggil Bu Nana sehingga agak membingungkan kalau ada telpon menanyakan Bu Nana…ini Bu Nana yang mana? Mau marah tidak bisa karena melihat wajah Aisha yang bengong seperti baru tahu kalau prakaryanya barusan tidak seharusnya dikerjakan. Waduuuuh…dasar anak kecil.

Langsung Bunda telpon ayah untuk laporan. Supaya ayah tidak kaget nanti pulang ke rumah. Wah, kata ayah, Aisha harus diberi hukuman (Aisha mendengarkan di ujung telpon dengan wajah bingung dan sedih)… Aisha minta ‘aap bundaaaa katanya. Ya sudah, pucuk dicinta ulam tiba, bunda langsung dapat ide ‘hukuman’ apa yang tepat untuk Aisha. Hehehehe…hukumannya harus mau diolesi bawang putih!!!!!! Yak, Aisha sepertinya sadar kesalahannya, dan setuju untuk diolesi walaupun sambil menangis dan merengek, tapi tidak meronta atau kabur. Mudah2an setelah ini bisa membaik yah…jadi tidak sia-sia ada yang diguntingi Aisha.

Hehehe…untuk mengoles bawang putih saja ternyata harus berkorban satu vitrage di rumah ini. Jadi deh besok2 bunda harus ke Kings nyari bahan vitrage yang mirip-mirip hehehe. Halaaaah ada-ada saja!!!

10-06-2006

Ternyata kemarin bukan cuma vitrage yang jadi korban guntingan Aisha. Malamnya ketika beres2 bunda menemukan seonggok benda seperti rambut jagung di lantai…yang ternyataaaaa….rambut boneka kesayangan tetehnya. Sekarang si princess rambutnya super pendek model tentara…untung barbie, jadi tetep cantik dengan gaya rambut baru…dan untungnya si kakak nyantai2 saja…"Tetep keren kok Bunda", katanya sambil mengamati dari segala arah. Heheheh…

Baur

Thursday, June 8th, 2006

Ketika kemarin, kini dan esok membaur,

semua berpendar melayang dalam waktu

Ada aroma dan rasa yang menggelenyar

dan sayup-sayup terkenali

entah kapan dan dimana

Lengan ingatan menggapai-gapai

dalam ruang pikiran penuh hari yang berganti

gelap….

terang….

dan diri yang duduk diam di tengah bidang-bidang dinding

tersiram bayangan yang seperti hantu

Dia bertanya kepada hati,

tapi ketika hati menjawab dalam metafor

dia pun tahu

Hati sedang ingin berahasia

……

Tuesday, June 6th, 2006

Harusnya kita padu,

karena aku bisa mendengar hatimu seperti milikku

Tapi jika kita padu,

mengapa aku menangis ketika kau tersenyum?

Harusnya kita satu,

karena kegelisahanmu seperti onak di hatiku

tapi kalau kita satu,

mengapa aku terus merindukanmu

Harusnya kita tunggal

karena kadang aku hilang tak kukenali

tapi bila kita tunggal,

mengapa aku masih bertanya mengapa?

dua pisau, dua batu

dua bintang yang jatuh di langit kosong

Dalam cinta kita

Selamanya adalah "kau" dan "aku"

                   .

- gara2 Two Bodies nya Paz -

Tentang Burung Dan Pohon

Saturday, June 3rd, 2006

Burung dan pohon

Melewati gelap dan terangnya hari

Dalam sumur sunyi malam

Dalam siang panas membakar

Yang memiliki sayap,

akan selalu ingin terbang

Yang kakinya berselimut tanah,

menatap dari pelukan ibu bumi

Dia ibu yang mengajarkan

bersyukur kepada langit,

berteman dengan angin dan hujan,

kesetiaan dan  kasih tak bersyarat

Sayap dan angkasa

adalah sahabat sepermainan

tapi dahan

adalah tempatnya pulang

Burung dan pohon,

Melewati gelap terangnya hari

Aku masih disini

Dan kau belum kembali