Archive for May, 2006

ada apa dengan senyapnya aisha?

Saturday, May 27th, 2006

Siapa bilang cuma keramaian yang bisa bikin heboh? Seminggu ini rumah dibikin heboh oleh kesunyi-senyapan. Penyebabnya tidak lain si kecil Aisha yang tiba2 mogok bicara. Mengingat biasanya makhluk satu ini tidak pernah absen mengeluarkan bunyi2an apapun yang sedang dilakukannya -kecuali ketika sedang tidur, rasanya super-aneh  melihat sosoknya tanpa ada efek audio,seperti nonton TV yang mute mode nya on.

Hari2 pertama berbagai spekulasi muncul (saat itu masih ada sepatah-dua patah kata yang keluar dari mulut mungilnya),  oh mungkin sedang kangen kakaknya -Ainun yang sedang menginap di rumah nenek. Besoknya : wah, jangan2 nggak enak badan, karena kok nggak selincah biasanya (biasanya batere cukup di charge 6 jam untuk sehari penuh gerakan heboh). Lusanya : walah, mulai susah makan..wah..harus segera dibawa ke dokter nih, jangan2 sakit tenggorokan. Nah kebetulan hari itu kakaknya dipulangpaksakan demi kesehatan jiwa sang adik yang katanya kangen banget nih. Peristiwa reuni di Ciwalk yang haru-biru karena mereka berpelukan lamaaaaa sekali, dan - ibunya mulai lega nih - si adik mulai tertawa-tawa, berlari-lari dengan gembira. Tapi senyum bunda cuma bertahan sampai garasi rumah, karena mulai sore itu Aisha melancarkan mogok bicara total!

Total! karena bahkan mengeluarkan bunyi pun tidak. Menangis (sepertinya) diusahakan tidak bersuara, semua pertanyaan dijawab dengan angguk atau geleng, memanggil pakai jawilan. Tidak ada makanan yang masuk malam itu, mulut dikunci rapat sampai untuk memeriksa mulutnya pun (takutnya sariawan nih) perlu bujuk membujuk hampir satu jam. Nah…nggak keliatan ada luka kok, gigi ndak ada yang bolong, amandel normal,…jadi apa ya masalahnya? Nah, ketika tidur malamnya tidak nyenyak, ditambahi acara mengigau segala (yang sebenarnya spesialisasi kakaknya), muncul dugaan lain yang berkaitan dengan hal2 supranatural…hahahaha…maklum, rumah tercinta di gunung masih dikelilingi hutan. Setelah ‘baca-baca’ dan episode mengigau berlalu, tinggal si bunda yang masih berspekulasi tentang kejadian2 aneh ini sampai terbawa mimpi saking stressnya. Waduh, gimana kalau diamnya sampai keterusan ya? soalnya pernah denger dan baca ada tuh jenis gangguan jiwa seperti ini…wah…pokoknya tidur bunda tidak tenang!

Besoknya di sekolah ternyata ‘hawa diam’ Aisha menular ke teman2 sekelasnya. Tinggal kakak2 fasilitatornya yang ikut bingung, ada apa ya dengan kelas ini? Tapi menjelang pulang rupanya Aisha sudah mulai mengeluarkan kata ‘nggak’ ketika ditanya salah seorang kakak, makan martabak (nambah lagi, berarti bener2 tidak sariawan dong). Juga sudah mulai ikut menari walaupun ketika sadar diintip bunda, tiba2 gerakannya di pause. Nah lo, sekarang bundanya jadi merasa jadi penyebab aksi mogok aisha nih, apa salah bunda ya kira-kira?

Nah, hari ini seharusnya Aisha ikut pertunjukan kecil di sekolahnya. Ceritanya jadi dinosaurus, dan dengan tegas memilih (dengan bahasa tubuh, masih) mau jadi T-Rex. Yah, tadi malam jadinya bunda lembur bikin topi muka T-rex dari bahan matras. Tapi ternyata pagi hari dilewati dengan tidur nyenyak yang sangat pulas, sehingga dengan sangat menyesal (bundanya yang nyesel, karna topi jerih payah tidak jadi mejeng di panggung) Aisha tidak ikut pertunjukan. Tapi, bangun tidur ternyata Aisha mulai bicara lagi! mau minum susu (duuuuh, alhamdulillah) sambil berkhayal jadi stegosaurus. Tapi lagi2 senyum lega bunda tak bertahan lama. Dalam perjalanan ke tempat bunda mengajar, aksi mogok bicara mulai lagi. ooooh tidak!

Kalau bunda ngajar hari Sabtu, berarti rombongan bawa perlengkapan seperti mau kemping. Bekal makanan Ainun, Aisha dan bunda sendiri, minuman, baju2 ganti, alat2 gambar untuk anak2 mengisi waktu luang, mainan (boneka biasanya) dan obat2an bunda (lambung tidak bisa diajak kompromi kadang2). Nah, salah satu obat yang wajib dibawa adalah ramuan temulawak, kunyit dan antanan yang sudah terbungkus sachet. Rasanya manis sih, tapi juga kelat, namanya juga jamu. Nah, ini yang teramat aneh..jeng jeng jeng.. selewat tengah hari setelah para om dan tante berusaha ‘menyembuhkan’ (om Rich, tadi sempet mengeluarkan suara donald ducknya nggak ya?), rupanya walaupun mogok bicara tapi tenggorokan Aisha kering juga. Yang ada di meja cuma ramuan kunyit bunda, jadi terpaksa deh diminum. Eh, nggak sampai 5 menit ada reaksinya : Aisha buka kotak bekalnya dan mulai makan chicken nugget dengan lahap. Diselang-seling minum kunyit, habis deh tuh bekal. "mmm…enak!", katanya. Eh, dia bicara!!!! Dilanjutkan dengan ikut kelas bunda dengan penuh semangat, saking semangatnya sampai nyaris berkelahi dengan salah satu anak laki2 sebaya nya. Selesai kelas, masih dengan botol ramuan mujarab, minta beli biskuit dan makan dengan lahapnya. Nah, setelah itu urusan lancar, komunikasi verbal jalan lagi, makanan dan minuman juga masuk dengan lancarnya, sudah terdengar tawa dan teriakannya…kayaknya sih sudah mulai normal, mudah mudahaaaaaaan!

Jadi kesimpulan si bunda, obat dari segala kebingungan seminggu penuh ini ternyata nggak disangka-sangka, dan tidak jelas juga apa bener ’sembuhnya’ karena hal ini : Obat lambung bunda, jamu kunyit temulawak! Waduh, tahu begitu dari kemarin2 ditawari jamu, setelah ramuan penyegar berbagai cap gagal. Jadi kalau terjadi lagi seperti ini, P3K jelas jamu kunyit. Tapi masih tidak jelas juga sebenarnya apa yang dirasakan  atau diinginkan Aisha selama mogok seminggu ini. Kira2 apa ya??? Ada Apa Dengan Senyapnya Aisha???

Beberapa Puisi Saja dari Paz

Monday, May 22nd, 2006

With Eyes Closed

With eyes closed

you light up within

you are blind stone

Night after night I carve you

with eyes closed

you are frank stone

We have become enormous

just knowing each other

with eyes closed

Sunstone

When was life ever truly ours?

When are we ever what we are?

We are ill-reputed, nothing more

than vertigo and emptiness, a frown in the mirror,

horror and vomit, life is never

truly ours, it always belongs to other

Life is no one’s, we all are life-

bread of the sun for others

The others that we all are-

when I am, I am another, my acts

of others, in order to be  I must be another,

leave myself, search myself

in the others, the others that don’t exist

If I don’t exist, the others that give me total existence, I am not,

there is no I, we are always us,

life is other, always there,

Further off, beyond you

and beyond me, always on horizon..

Tentang Jatuh Cinta pada Kesenyapan

Monday, May 22nd, 2006

Man in love with silence who can’t stop talking

Octavio Paz, nama yang baru saya lihat beberapa bulan yang lalu di dalam blog seorang teman (bole tulis nama blognya nggak ya?). Menariknya, Octavio Paz berada pada bagian tulisan yang ketika itu paling menyedot perhatian saya, yaitu tentang saat2 manusia merasa paling sendirian -maklum, jenis insan melankolis, gampang merasa sendirian biasanya. Saat2 itu katanya menjelang waktu subuh, pada saat salju pertama mencair dan menjelang kematian.

Octavio paz adalah penyair, penulis, jurnalis sekaligus diplomat Mexico. Lahir 1914, pernah menerima nobel sastra di tahun 1990 dan meninggal thn 1998. Puisi2nya banyak dipengaruhi perjalanan hidupnya dan persentuhannya dengan jaman2 keemasan dunia seni. Perjalanan studinya ke Amerika memberi sentuhan anglo-amerika yang modernis dalam karyanya, tugas diplomatiknya di Perancis memperkenalkannya dengan kebebasan spiritual dari surealisme yang berkembang pada thn 20’-30’ an di Eropa. Dari pergaulannya dengan karya2 puisi romantik Jerman dan Inggris.dia menyerap apa yang disebutnya sebagai kekuatan transenden kata2 Dia juga menyelami cinta, fisik dan metafisik dari tantralisme dan Budhisme dari India.Tulisan jurnalisme dan esay2nya dinilai memberikan gambaran riil tentang kondisi sosial, budaya dan politik Mexico saat itu.

Mengenai tulisan Octavio Paz, tidak bisa memberikan ulasan yang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, maklum, cuma penikmat. Lagipula baru sekelumit karyanya yang saya gauli. Tapi, lagi-lagi, menurut teman tadi, puisi, seperti juga cabang2 seni lainnya, tidak untuk dijabarkan atau ditelaah agar dimengerti tetapi untuk dirasakan. Benar juga, mungkin ini penjelasan yang benar untuk jargon ‘seni adalah kejujuran’.Para pembuat karya seni bisa benar2 jujur, bisa juga tidak jujur, tapi bagi para penikmatnya lah kejujuran yang sejati. Apa yang terasa, terbersit,terpahami oleh para penikmat seni ketika menikmati karya seni adalah curahan yang jujur dari diri. Dan kalau begitu, apresiasi seni menjadi hal yang sangat personal.

Biasanya kita mengasosiasikan kesepian dengan kesedihan. Ketika merasa sepi, biasanya menjadi sedih. Dalam kegelapan, merasa takut. Dalam puisi2 Paz, sepi, sunyi, senyap, gelap, menjadi indah. Sepi indah karena pada saat itu kita bisa mendengarkan diri sendiri. Gelap indah karena memungkinkan dunia lepas dari kebentukannya, pikiran keluar dari pemujaan bentuk, kembali ke esensinya. Merasa sendirian? Hey, saya baru diingatkan Paz – melalui Sunstone, bahwa hidup ini tidak pernah bener2 menjadi milik diri sendiri Tidak pernah ada dunia tanpa sekalian yang lain selain diri kita. Kita ini apalah, tapi juga kita adalah segalanya. Kita memang sendiri, sekaligus tidak akan pernah sendiri. Inilah satu paket sebab akibat kehidupan. Jadi kalau merasa sendirian, buat apa pusing dan sedih?

Octavio Paz jatuh cinta pada kesenyapan, dan dalam sepi menemukan banyak hal, yang membuat dia jadi tak bisa berhenti bicara –mungkin dia sudah mengalami ‘kematian-kematian’ kecil dalam hidup. Senang sekali mengenalnya lewat tulisan2nya karena buat saya – si insan melankolis, Pak Paz mengingatkan untuk berpikiran positif, tidak takut menerima dan menikmati hidup apa adanya, dan rendah hati bisa menjadi kunci kebahagiaan. Obat yang ampuh untuk manusia (baca:saya) saat berada di lembah gelombang kehidupan yang naik turun ini. Maklumlah, namanya juga manusia, selalu lupa, diombang ambing dua kutub kehidupan. Tapi beruntung bila mempunyai teman2 yang mengingatkan untuk tidak bergerak terlalu jauh ke atas atau ke bawah, di tengah-tengah saja. Kita menjalani pola yang seperti itu, sampai menjelang kematian nanti dimana amplitudo makin mengecil, mendekati sunyi, in a pause…tiiiiiiiiiit.